JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menetapkan target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp455 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026. Angka ini menurun 4,7 persen dibanding proyeksi 2025 yang tercatat Rp477,22 triliun.
Berdasarkan Nota Keuangan RAPBN 2026, porsi terbesar PNBP masih bersumber dari pemanfaatan sumber daya alam (SDA), baik minyak dan gas bumi (migas) maupun komoditas nonmigas seperti batu bara, emas, nikel, tembaga, serta sektor kehutanan, perikanan, kelautan, dan panas bumi.
Dari total target Rp455 triliun, kontribusi SDA diperkirakan mencapai Rp236,61 triliun atau sekitar 52 persen. Rinciannya, penerimaan dari sektor migas ditargetkan Rp113,07 triliun, sementara nonmigas Rp123,54 triliun. Pada pos nonmigas, mayoritas berasal dari pertambangan mineral dan batu bara yang diproyeksikan menyumbang Rp113,39 triliun. Sisanya berasal dari kehutanan Rp5,9 triliun, perikanan Rp1,6 triliun, dan panas bumi Rp2,5 triliun.
Tekanan Global Pengaruhi Kinerja PNBP
Meski demikian, pemerintah mengakui capaian PNBP pada Semester I 2025 masih tertekan. Realisasi penerimaan turun 22,7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dipicu fluktuasi harga minyak dan mineral sejak awal tahun.
Selain itu, implementasi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 yang mengalihkan pengelolaan setoran dividen BUMN ke Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) turut menekan capaian PNBP. Dengan kondisi tersebut, pemerintah memperkirakan PNBP sepanjang 2025 hanya akan mencapai Rp477,22 triliun atau turun 8,3 persen dibanding realisasi 2024.
Strategi PNBP 2026
Untuk mengejar target 2026, pemerintah menyiapkan tiga langkah utama:
- Optimalisasi pemanfaatan SDA dengan memperbaiki tata kelola, mendorong peningkatan nilai tambah di dalam negeri, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
- Penguatan pengawasan dan tata kelola PNBP, termasuk evaluasi kebijakan, digitalisasi, serta optimalisasi aset negara.
- Meningkatkan sinergi lintas instansi, terutama dalam pemanfaatan teknologi informasi guna memperluas basis penerimaan.













