Ekonom DBS: Indonesia Masih Jadi Tujuan Favorit Relokasi Industri China

JurnalPatroliNews – Jakarta – Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, menilai prospek penanaman modal asing (foreign direct investment/FDI) ke Indonesia pada 2026 tetap solid. Ia menyebut sebagian besar aliran modal diperkirakan masih mengalir ke industri pengolahan logam dasar, yang selama ini menjadi penopang utama realisasi FDI Indonesia.

Radhika menjelaskan bahwa dalam lima tahun terakhir Indonesia secara konsisten mencatat capaian FDI tertinggi setiap tahun. Meskipun realisasi pada tiga kuartal pertama 2025 sedikit melambat, ia menilai arah investasi masih positif.

“Secara keseluruhan, proyeksi FDI masih optimistis, mencapai sekitar US$ 50 miliar hingga US$ 60 miliar. Selama ini sekitar 60–70% FDI masuk ke sektor pengolahan logam dasar, dan komposisinya kemungkinan tidak banyak berubah,” ujarnya dikutip dari Antara.

Menurutnya, peta investasi global saat ini tengah mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya arus modal banyak tertuju ke China, kini negara tersebut justru semakin agresif menanamkan modal ke luar negeri (outbound FDI/ODI), terutama ke kawasan ASEAN.

Meskipun pertumbuhannya sedikit melambat, investasi langsung China di Asia Tenggara tetap besar dan menyasar berbagai negara, termasuk Indonesia, Singapura, dan pasar Asia lainnya.

Radhika memperkirakan tren relokasi kapasitas produksi dari China ke luar negeri akan terus berlanjut karena tekanan kompetisi di dalam negeri. Ia menilai kebijakan perdagangan Amerika Serikat tidak akan menjadi hambatan besar bagi pergeseran tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, realisasi FDI Indonesia terus mencetak rekor baru. Sektor pengolahan logam dasar dan hilirisasi menjadi tujuan terbesar, dengan kontribusi signifikan dari investor China. Selain itu, Singapura, Hong Kong, dan Jepang juga tercatat sebagai investor penting bagi Indonesia.

Pada sektor logam dan pertambangan, Indonesia memiliki posisi strategis berkat cadangan nikel, bauksit, batu bara, dan mineral penting lainnya. Hilirisasi mineral dipandang memberikan nilai tambah yang besar, terutama untuk industri teknologi tinggi.

Namun, Radhika mengingatkan bahwa persaingan global di sektor logam semakin ketat. China masih mendominasi kapasitas pengolahan mineral dunia, sementara negara-negara pemilik cadangan mulai mempercepat pengembangan hilirisasi untuk memperkuat struktur industrinya.

Produk hilir logam kini semakin dibutuhkan oleh industri teknologi tinggi, mulai dari baterai kendaraan listrik, semikonduktor, telekomunikasi, hingga pusat data (data center). Transisi energi global juga meningkatkan permintaan mineral untuk pengembangan energi bersih.

Meski fokus bahan baku baterai global mulai bergeser dari nikel ke lithium, Radhika menilai permintaan nikel tetap kuat dalam jangka menengah hingga panjang. Kebutuhan nikel tidak hanya berasal dari sektor kendaraan listrik, tetapi juga dari berbagai industri lain.

“Nikel bukan komoditas dengan siklus boom and bust yang ekstrem. Permintaannya relatif stabil, baik untuk kendaraan listrik, baterai, maupun beragam kebutuhan industri,” ujarnya.