JurnalPatroliNews – Jakarta – Penguatan kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak bisa lagi dilakukan secara terpisah oleh masing-masing instansi. Seiring berkembangnya teknologi, kebutuhan soft skills dan hard skills bagi ASN semakin kompleks. Karena itu, dibutuhkan pergeseran dari pola kerja egosystem menuju ekosistem pembelajaran yang kolaboratif.
Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Purwadi Arianto, menyatakan bahwa dalam ekosistem tersebut seluruh unsur mulai dari pemerintah, sektor swasta, akademisi, media, hingga komunitas memiliki peran yang saling melengkapi.
Swasta menyediakan platform dan teknologi, akademisi mengembangkan kurikulum, media mendukung penyebaran pengetahuan, sementara masyarakat memberikan umpan balik berbasis kebutuhan nyata di lapangan.
“Di sinilah Corporate University berperan sebagai orkestrator ekosistem pembelajaran, menghubungkan berbagai pihak, memastikan pembelajaran relevan dengan visi misi organisasi dan tujuan pembangunan nasional, serta membawa praktik baik ke seluruh instansi,” ujar Wamen Purwadi saat membuka ASN Corporate University (CorpU) Summit 2025 di Surabaya, Rabu (26/11/2025).
Menurutnya, CorpU Summit 2025 menjadi momentum penting untuk memperkuat ekosistem pembelajaran ASN, terutama dalam menyiapkan SDM aparatur yang adaptif, responsif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Pendekatan Corporate University dinilai mampu mendorong transformasi pembelajaran ASN agar lebih terintegrasi, inklusif, dan berorientasi pada kinerja.
“Dengan pendekatan ini, setiap ASN belajar secara berkelanjutan, relevan dengan tugasnya, dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pelayanan publik,” tambahnya.
Purwadi juga menegaskan bahwa penguatan SDM merupakan salah satu prioritas utama dalam Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden.
Fokus ini menempatkan pendidikan, kesehatan, teknologi, prestasi olahraga, serta kesetaraan gender sebagai fondasi kemajuan bangsa, termasuk bagi ASN.
Jumlah ASN saat ini mencapai lebih dari 5,5 juta orang, dengan 76 persen di antaranya bertugas di daerah dan sebagian besar berasal dari generasi milenial serta Gen Z.
Selain itu, 63 persen ASN menempati jabatan fungsional yang membutuhkan pembelajaran langsung terkait praktik kerja harian.
Kondisi ini menunjukkan perlunya metode pengembangan kompetensi yang tidak hanya terpusat di kelas, tetapi juga relevan, menjangkau daerah, dan berdampak pada pelayanan kepada masyarakat.
“Kita membutuhkan pengembangan kompetensi yang terintegrasi, menjangkau daerah, terkait langsung dengan pekerjaan, dan berdampak pada pelayanan kepada masyarakat.
Dengan pendekatan kolaboratif ini, penguatan kompetensi ASN dapat berlangsung lebih cepat, terarah, dan mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045,” jelas Purwadi.
Sementara itu, Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Muhammad Taufiq mengungkapkan bahwa lebih dari 350 instansi kini telah menerapkan pembelajaran melalui Corporate University. Sebagian besar metode pembelajaran sekitar 90 persen dilakukan langsung di tempat kerja.
Pendekatan ini dirancang agar proses kepemimpinan dan pembelajaran berjalan secara terintegrasi. Melalui metode tersebut diharapkan lahir budaya belajar yang kolaboratif, tidak terkotak-kotak, dan menghasilkan dampak nyata.
“CorpU mempunyai peran yang sangat strategis dalam reformasi birokrasi. CorpU membangun transformasi budaya dan memenuhi kompetensi untuk pekerjaan yang baru,” ujarnya.














