JurnalPatroliNews – Jakarta – Ketegangan di perairan Asia Timur meningkat tajam setelah China mengerahkan lebih dari 100 kapal angkatan laut dan penjaga pantai sejak pertengahan November 2025.
Langkah besar ini dipandang sebagai respons langsung terhadap pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang menyinggung kesiapan Jepang untuk merespons secara militer jika Taiwan diserang.
Menurut laporan Reuters, armada China tidak hanya terkonsentrasi pada satu titik. Kapal-kapal tersebut membentuk formasi besar di sejumlah kawasan strategis, mulai dari bagian selatan Laut Kuning, melintasi Laut China Timur, hingga ke wilayah sengketa di Laut China Selatan dan melebar ke perairan Pasifik.
Hingga Kamis (4/12/2025), intelijen Jepang mencatat lebih dari 90 kapal China masih aktif beroperasi di kawasan tersebut. Angka ini sedikit menurun dari puncak pengerahan yang sempat melebihi 100 kapal pada awal pekan.
Situasi memanas setelah 14 November 2025, tepat setelah Beijing memanggil Duta Besar Jepang untuk China, Kenji Kanasugi.
Pemanggilan itu merupakan protes keras atas komentar PM Takaichi yang menyatakan bahwa Jepang dapat mengambil tindakan militer apabila Taiwan menjadi sasaran agresi.
Kemarahan Beijing semakin membesar menyusul langkah Presiden Taiwan, Lai Ching-te, yang bulan lalu mengumumkan alokasi anggaran tambahan pertahanan sebesar 40 miliar dolar AS untuk menghadapi ancaman China. Beijing tetap bersikeras mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya.
Tidak sekadar hadir, sejumlah kapal China juga melakukan manuver provokatif. Diiringi pengerahan pesawat tempur, beberapa kapal bahkan melakukan simulasi serangan terhadap kapal asing di sekitar jalur sibuk perairan Asia Timur.
Sumber intelijen menyatakan bahwa armada tersebut melakukan latihan operasi penolakan akses atau anti-access/area denial (A2/AD), yang bertujuan menghalangi pasukan asing—termasuk sekutu Taiwan—untuk masuk dan memberikan bantuan apabila konflik pecah.
“Ini jauh melampaui kebutuhan pertahanan nasional China dan menimbulkan risiko bagi seluruh kawasan,” ujar seorang pejabat keamanan yang enggan disebutkan namanya.
Ia menambahkan bahwa Beijing tampaknya sedang menguji respons negara-negara tetangga melalui pengerahan kekuatan laut yang belum pernah terlihat sebelumnya.














