Menkeu Purbaya Soroti Keunggulan AI Bea Cukai Dibanding AI Kemenkes

JurnalPatroliNews – Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa sistem artificial intelligence (AI) milik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) memiliki karakteristik berbeda dengan sistem AI yang digunakan kementerian lain. Ia mengaku tersinggung jika AI Bea Cukai disamakan dengan sistem AI di institusi berbeda.

Menurut Purbaya, AI Bea Cukai dirancang sebagai learning system yang terus berkembang dan menjadi tulang punggung pengawasan kepabeanan, bukan sistem sekali jadi.

“Jangan bandingin dengan Kementerian Kesehatan. Tersinggung gue,” ujar Purbaya saat meresmikan alat pemindai peti kemas X-Ray serta inovasi digital Self Service Report Mobile (SSR-Mobile) dan Trade AI di Terminal 3 dan Terminal Mustika Alam Lestari, Pelabuhan Tanjung Priok, Jumat (12/12/2025).

Ia menjelaskan perbedaan mendasar AI Bea Cukai terletak pada kemampuannya belajar dari data lapangan. Akurasi sistem tidak ditargetkan sempurna sejak awal, tetapi terus meningkat seiring proses pembelajaran dari hasil verifikasi petugas di lapangan.

Saat ini, akurasi AI Bea Cukai diklaim telah mendekati 90 persen. Purbaya optimistis pada Maret tahun depan tingkat akurasi tersebut dapat mendekati 100 persen.

“Saya pikir kalau bulan Maret tahun depan sudah mendekati 100 persen akurasinya,” katanya.

Selain untuk mendeteksi kecurangan impor seperti under-invoicing dan over-invoicing, AI juga dimanfaatkan sebagai alat pengawasan kinerja aparatur Bea Cukai. Sistem ini memungkinkan perbedaan signifikan antara prediksi AI dan hasil pemeriksaan lapangan untuk segera ditelusuri.

“Nanti ketika realisasinya berubah terlalu banyak, saya bisa langsung mengecek orang yang memverifikasinya. Dia kerja benar atau AI-nya yang salah,” tegas Purbaya.

Sistem Trade AI dikembangkan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan DJBC untuk membandingkan nilai barang impor dengan harga pasar, termasuk data dari marketplace dalam dan luar negeri. Sistem ini terintegrasi dengan CEISA 4.0 sehingga mempercepat pengambilan keputusan dan memperkuat pengawasan.

Dalam uji coba awal terhadap 145 pemberitahuan impor barang (PIB), sistem ini berhasil menghasilkan tambahan penerimaan negara sekitar Rp 1,2 miliar.

Sementara itu, inovasi SSR-Mobile memungkinkan pelaporan mandiri secara real-time dengan fitur geotagging dan analisis risiko otomatis. Perusahaan dapat melakukan proses gate-in, stuffing, bongkar muat, hingga gate-out secara mandiri, sementara pengawasan tetap dilakukan berbasis data.

“Dulu urusan Bea Cukai bikin deg-degan, sekarang yang deg-degan justru oknum penyelundup,” ujar Purbaya.

Ke depan, pemerintah menyiapkan investasi sekitar Rp 45 miliar untuk pengembangan lanjutan sistem AI agar dapat diterapkan di seluruh pelabuhan di Indonesia.

“Untuk pengembangan lebih dalam lagi supaya lebih canggih di seluruh Indonesia, kita perkirakan perlu investasi sekitar Rp 45 miliar lagi untuk sistem IT-nya,” tutupnya.