Ketegangan AS-China Memuncak, Boeing hingga Northrop Grumman Kena Sanksi Keras Beijing

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah China secara resmi menjatuhkan sanksi kepada 20 perusahaan pertahanan asal Amerika Serikat serta 10 orang eksekutif senior sebagai respons atas aktivitas penjualan senjata ke Taiwan.

Langkah ini diambil Beijing sebagai aksi pembalasan setelah Amerika Serikat menyetujui paket penjualan senjata senilai 11,1 miliar dolar AS atau setara dengan kurang lebih 172 triliun rupiah untuk Taiwan.

Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa nilai penjualan senjata tersebut merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah dan dianggap sebagai provokasi serius terhadap kedaulatan wilayahnya.

Dalam pernyataan resminya, Beijing memperingatkan bahwa setiap tindakan yang melampaui batas dalam isu menyangkut Taiwan akan ditanggapi secara tegas guna melindungi kepentingan nasional China.

Daftar perusahaan yang terkena sanksi mencakup nama-nama besar di industri pertahanan, seperti cabang Boeing di St. Louis, Northrop Grumman Systems Corporation, L3Harris Maritime Services, hingga perusahaan teknologi kecerdasan buatan Lazarus AI.

Selain entitas bisnis, sanksi juga menyasar individu, termasuk pendiri Anduril Industries dan sembilan eksekutif senior lainnya yang dianggap bertanggung jawab atas kesepakatan tersebut.

Sanksi yang mulai berlaku pada 26 Desember 2025 ini meliputi pembekuan aset seluruh perusahaan terkait yang berada di wilayah kedaulatan China.

Selain itu, pemerintah China secara tegas melarang organisasi maupun individu domestik untuk menjalin kerja sama dalam bentuk apa pun dengan entitas tersebut. Bagi para individu yang masuk dalam daftar hitam, aset mereka disita dan akses masuk ke wilayah China ditutup sepenuhnya.

Meskipun Amerika Serikat secara hukum terikat komitmen untuk mendukung sarana pertahanan Taiwan, langkah Washington ini semakin memperuncing ketegangan diplomatik dengan Beijing.

Krisis ini diprediksi akan berdampak pada stabilitas rantai pasok industri pertahanan global dan memperumit relasi ekonomi kedua negara adidaya tersebut di masa mendatang.