Pengamat Nilai Kejatuhan Maduro Berakar dari Retaknya Struktur Internal Negara

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, berpandangan bahwa penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro tidak bisa semata-mata dilihat sebagai hasil tekanan dari luar negeri.

Menurutnya, peristiwa tersebut justru mencerminkan rapuhnya fondasi internal negara yang telah berlangsung dalam waktu lama.

Ia menilai, Venezuela mengalami proses peluruhan dari dalam yang terjadi secara perlahan namun berdampak fatal. Kondisi ini ditandai oleh melemahnya kemampuan pemimpin negara dalam menyatukan masyarakat serta memudarnya peran kepemimpinan sebagai penunjuk arah moral dan simbol kedaulatan nasional.

“Terjadi semacam pembusukan senyap. Ketika seorang pemimpin gagal mengonsolidasikan rakyat dan kehilangan fungsi sebagai kompas moral, maka kedaulatan negara ikut melemah,” ujar Teuku Rezasyah saat dihubungi RMOL, Minggu, 4 Januari 2026.

Ia menilai, sulit menjelaskan bagaimana seorang kepala negara yang memiliki sistem pengamanan berlapis dan didukung aparatur negara dapat ditangkap tanpa adanya indikasi pembiaran dari dalam. Menurutnya, situasi tersebut menunjukkan bahwa fungsi aparatur negara telah tumpul.

“Mata dan telinga negara seolah tidak bekerja. Lingkaran elite di sekitar kekuasaan justru memilih diam, bahkan tampak menikmati runtuhnya kekuasaan itu sendiri,” tegasnya.

Rezasyah juga menyoroti minimnya perlawanan berarti dari institusi militer nasional. Ketiadaan mobilisasi besar untuk mempertahankan kepala negara, meski secara struktural masih terdapat pasukan pengamanan presiden dan lembaga intelijen, dinilainya sebagai sinyal kuat runtuhnya loyalitas negara.

“Tidak terlihat adanya perlawanan militer secara nasional. Tidak ada pengerahan pasukan. Pengamanan presiden ada, intelijen juga ada, tetapi semuanya seperti membeku dan terlambat merespons,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia menilai institusi negara di Venezuela telah kehilangan kemampuan menjaga kesetiaan dan kepatuhan internal. Dalam kondisi tersebut, melindungi kepala negara justru dipersepsikan aparat sebagai ancaman terhadap masa depan mereka sendiri.

“Mungkin ada rasa percaya diri berlebihan dari Maduro, hingga luput membaca sejauh mana loyalitas elite di sekelilingnya,” ujarnya.

Menurut Rezasyah, perpecahan di kalangan elite, merosotnya loyalitas, serta hilangnya keyakinan terhadap keberlanjutan rezim menjadi faktor kunci yang membuka jalan bagi intervensi.

“Saat serangan terjadi, tidak ada komando tegas untuk bertahan, tidak muncul figur pemersatu yang berani mengambil risiko, dan birokrasi gagal menggalang solidaritas rakyat,” pungkasnya.