Trump Pertanyakan Loyalitas NATO Saat Polemik Greenland Memanas

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengguncang hubungan transatlantik dengan pernyataan keras yang mempertanyakan soliditas Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Keraguan itu mencuat di tengah meningkatnya polemik global terkait wacana pengambilalihan Greenland, wilayah otonom milik Denmark.

Melalui akun Truth Social, Trump secara terbuka menyangsikan kesiapan NATO untuk membela Amerika Serikat jika negara tersebut berada dalam kondisi genting. Pernyataan itu dikutip media POLITICO pada Jumat, 9 Januari 2026.

“Saya tidak yakin NATO akan berdiri bersama kita ketika kita benar-benar membutuhkan,” tulis Trump.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap akan memenuhi komitmennya sebagai anggota aliansi militer tersebut, terlepas dari sikap sekutu-sekutunya.

“Kami akan tetap mendukung NATO, bahkan jika mereka tidak melakukan hal yang sama terhadap kami,” ujarnya.

Komentar kontroversial itu muncul sehari setelah Gedung Putih menyatakan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer demi memperoleh Greenland. Pernyataan tersebut langsung memicu kegelisahan internasional, mengingat Denmark merupakan anggota NATO dan Greenland berada dalam payung kedaulatannya.

Situasi ini dinilai berbahaya karena Pasal 5 Traktat Atlantik Utara menyebutkan bahwa serangan terhadap satu negara anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi.

Trump kembali melontarkan kritik lama terhadap negara-negara sekutu yang dinilainya enggan memenuhi kewajiban belanja pertahanan. Ia menuding banyak negara Eropa terlalu lama bergantung pada perlindungan militer Amerika Serikat.

Bahkan, Trump menyebut tanpa kehadiran Washington, NATO tidak akan memiliki daya gentar terhadap kekuatan global seperti Rusia dan China.

Ketegangan diplomatik semakin meningkat setelah Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, memperingatkan dampak fatal apabila Amerika Serikat sampai melakukan tindakan militer terhadap sesama anggota NATO. Menurutnya, langkah tersebut bisa meruntuhkan fondasi keamanan internasional yang dibangun sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua.

“Semua akan runtuh, termasuk NATO dan sistem keamanan global yang telah menopang stabilitas selama puluhan tahun,” tegas Frederiksen.

Merespons eskalasi ini, para pemimpin Eropa bergerak cepat. Delapan tokoh utama Eropa sepakat bahwa keamanan Greenland harus dijamin secara kolektif melalui mekanisme NATO, dengan tetap menghormati kedaulatan serta keutuhan wilayah Denmark.

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, mengungkapkan bahwa Paris tengah berkoordinasi intensif dengan mitra-mitra Eropa guna merumuskan sikap bersama. Sementara itu, pemerintah Jerman memastikan diskusi serius sedang berlangsung untuk memastikan perlindungan terhadap kedaulatan Greenland.