JurnalPatroliNews -Bintaro – Ikatan Pilot Indonesia (IPI) mendesak pemerintah dan Komite Nasional Keamanan Penerbangan (KNKP) untuk segera memperketat sistem keamanan di seluruh bandara wilayah Papua.
Langkah ini menyusul tragedi penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang menewaskan pilot Kapten Egon dan kopilot Kapten Baskoro dari maskapai Smart Aviation di Lapangan Terbang Korowai, Papua Selatan.
Dewan Kehormatan IPI, Capt. Rama Noya, dalam konferensi pers di Bintaro menegaskan bahwa serangan terhadap penerbang sipil merupakan alarm keras bagi dunia penerbangan nasional.
Ia menyebut para pilot di wilayah perintis adalah ujung tombak pelayanan masyarakat yang seharusnya mendapatkan perlindungan maksimal dari seluruh pihak, baik aparat keamanan maupun masyarakat adat setempat.
Menurut Rama, IPI sebenarnya telah lama memberikan rekomendasi teknis terkait pengamanan di daerah berisiko tinggi, termasuk hasil kajian seminar di Jayapura tahun 2022.
Namun, insiden maut ini menunjukkan masih adanya celah besar dalam implementasi keamanan di lapangan yang harus segera dibenahi oleh pemerintah agar layanan logistik dan medis di wilayah terpencil tidak lumpuh.
Senada dengan Rama, Direktur Teknik General Aviation IPI, Willy Resoeboen, menyayangkan insiden ini terjadi di bandara yang dikelola oleh pemerintah dengan jadwal penerbangan reguler yang cukup padat.
Willy menjelaskan bahwa rute Tanah Merah menuju Korowai Batu memiliki frekuensi hingga lima kali penerbangan sehari, sehingga standar pengamanan seharusnya sudah bersifat otomatis dan ketat.
Saat ini, jenazah kedua korban telah dievakuasi dari Korowai Batu menuju Timika untuk proses autopsi sebelum diterbangkan ke Bandara Soekarno-Hatta.
Keluarga besar IPI berharap pemerintah tidak menganggap sepele peristiwa ini dan segera mengambil langkah konkret guna memastikan keselamatan para pilot yang bertugas di wilayah rawan konflik demi menjaga kedaulatan transportasi udara nasional.














