Tiongkok Desak AS Batalkan Tarif Trump Usai Putusan MA

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Tiongkok mendesak Amerika Serikat segera mencabut kebijakan tarif sepihak yang diumumkan Presiden Donald Trump, menyusul putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang dinilai menjadi momentum mengakhiri praktik proteksionisme.

Dalam pernyataan resminya, Kementerian Perdagangan Tiongkok menegaskan tidak ada pihak yang diuntungkan dalam perang dagang. Beijing menilai kebijakan tarif sepihak Washington justru mengganggu stabilitas sistem perdagangan global.

“Tiongkok mendesak AS untuk membatalkan langkah-langkah tarif sepihaknya terhadap mitra dagang. Tidak ada pemenang dalam perang dagang dan proteksionisme tidak akan membawa ke mana pun,” demikian pernyataan otoritas perdagangan Tiongkok, seperti dikutip AFP, Senin (23/2/2026).

Desakan tersebut muncul setelah Mahkamah Agung AS, dalam putusan enam banding tiga pada Jumat (20/2/2026), menyatakan Trump tidak memiliki kewenangan memberlakukan tarif berdasarkan undang-undang tahun 1977 yang selama ini menjadi landasan pengenaan pungutan mendadak terhadap sejumlah negara.

Putusan itu dipandang sebagai pukulan politik bagi kebijakan ekonomi Trump yang selama ini memicu gejolak perdagangan internasional. Namun respons Gedung Putih justru memicu ketegangan baru.

Trump diketahui mengumumkan tarif global baru sebesar 10 persen terhadap impor dengan dasar hukum berbeda, sebelum kemudian menaikkannya menjadi 15 persen pada Sabtu (21/2/2026). Kebijakan tarif 15 persen tersebut dijadwalkan berlaku mulai Selasa dan akan diterapkan selama 150 hari, dengan sejumlah pengecualian produk.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan pihaknya terus mencermati langkah Washington, termasuk kemungkinan penggunaan instrumen investigasi perdagangan untuk mempertahankan tarif tinggi.

“AS saat ini sedang merencanakan langkah-langkah alternatif seperti investigasi perdagangan untuk mempertahankan tarif yang lebih tinggi terhadap mitra dagang. Tiongkok akan terus memperhatikan hal ini dan dengan tegas melindungi kepentingannya,” bunyi pernyataan tersebut.

Ketegangan dagang kedua negara ini terjadi menjelang rencana kunjungan Trump ke Tiongkok dalam waktu dekat, yang akan menjadi lawatan pertamanya pada periode kedua masa kepemimpinannya.