JurnalPatroliNews – Jakarta -Dunia internasional kini tengah menyoroti situasi di Iran pasca-gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026.
Sementara tanggal pemakaman Khamenei yang direncanakan berlangsung di kota suci Mashhad masih menjadi rahasia, memori publik kembali ditarik pada peristiwa serupa yang mengguncang dunia lebih dari tiga dekade silam, yakni pemakaman pendahulu sekaligus pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Sejarah mencatat, Iran telah dua kali menghadapi duka mendalam atas wafatnya pemimpin tertinggi sejak pecahnya Revolusi Islam 1979.
Peristiwa wafatnya Khomeini pada 3 Juni 1989 menjadi preseden penting yang menggambarkan betapa besarnya pengaruh kepemimpinan religius di negara tersebut.
Kematian Khomeini diumumkan secara resmi melalui Radio Teheran pada hari Minggu, meskipun sang pemimpin agung sebenarnya telah mengembuskan napas terakhir sehari sebelumnya.
Menurut keterangan resmi pemerintah saat itu, Khomeini wafat sebelas hari setelah menjalani operasi untuk mengatasi pendarahan internal.
Anak kandungnya, Hojatoleslam Ahmed Khomeini, mengonfirmasi bahwa ayahnya meninggal di sebuah rumah sakit di Teheran. Kabar ini segera memicu gelombang duka kolektif yang luar biasa di seantero negeri.
Prosesi perpisahan terakhir dimulai dengan salat jenazah di Masjid Jamaran, Teheran Utara, sebuah tempat yang menjadi kediaman sederhana sang pemimpin selama sembilan tahun.
Saat berita duka tersebut tersebar, ibu kota Teheran berubah menjadi lautan manusia yang mengenakan pakaian hitam sebagai simbol berkabung.
Antusiasme dan duka yang meledak di jalanan menciptakan situasi yang sulit terkendali bagi otoritas keamanan.
Laporan dari UPI menyebutkan bahwa jutaan orang membanjiri rute pemakaman hingga memicu insiden berdesak-desakan.
Tragedi tak terelakkan ketika 10 orang dilaporkan tewas terinjak-injak dan sekitar 400 lainnya mengalami luka parah di tengah massa yang histeris.
Tingginya emosi massa bahkan sempat menyebabkan peti jenazah terbuka dan kain kafan sang pemimpin ditarik oleh pelayat yang ingin memberikan penghormatan terakhir secara fisik.
Garda Revolusi Iran terpaksa melakukan intervensi ketat untuk mengamankan jenazah dan menertibkan massa yang emosional.
Setelah melalui situasi yang penuh kekacauan, jenazah akhirnya dapat dimakamkan di sebuah mausoleum di Teheran Selatan.
Kini, saat Iran bersiap melepas Ali Khamenei ke tempat peristirahatan terakhirnya di Mashhad, memori tentang pemakaman massal tahun 1989 menjadi pengingat akan dinamika politik dan emosional yang menyertai transisi kepemimpinan di negeri para Mullah tersebut.














