JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) tetap menjadi bagian dari upaya diplomasi pemerintah untuk mendorong terciptanya perdamaian di Palestina.
Meski terdapat usulan dari sejumlah pihak agar Indonesia menangguhkan keanggotaan dalam forum tersebut, pemerintah memandang BoP sebagai wadah penting untuk dialog dan perundingan di tengah konflik yang masih berlangsung.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Nusron Wahid usai menghadiri acara buka puasa bersama Presiden dan ratusan tokoh agama di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis malam (5/2/2026).
Menurut Nusron, Presiden menilai BoP merupakan sarana diplomasi yang layak ditempuh terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan langkah lain dalam upaya perdamaian.
“Posisi Pak Presiden, bangsa Indonesia sudah menerima BoP ini sebagai sarana, sebagai ikhtiar menuju perdamaian. Setidaknya ikhtiar ini dicoba dulu. Jangan sampai ikhtiar dan usahanya belum dilakukan, sudah diminta untuk keluar terlebih dahulu,” kata Nusron.
Ia menambahkan, Presiden tetap menghargai berbagai pandangan yang berkembang di masyarakat, termasuk usulan agar Indonesia menangguhkan atau bahkan keluar dari keanggotaan forum tersebut.
“Kalau ada satu dua yang masih punya pendapat seperti itu kita hargai. Tapi sebagai kepala negara, Bapak Presiden berkewajiban menjelaskan secara utuh. Kalau ada yang menyarankan, tentu kita hargai sarannya,” ujarnya.
Namun demikian, Prabowo menilai hingga saat ini belum ada forum alternatif yang memiliki mekanisme perundingan konkret selain BoP untuk membahas upaya perdamaian di Palestina, termasuk di Gaza.
Menurut Nusron, Presiden bahkan mempertanyakan forum apa yang dapat digunakan sebagai pengganti apabila Indonesia keluar dari BoP.
“Pak Presiden juga mempertanyakan, kalau kita diminta keluar dari BoP, lalu meja perundingan untuk menciptakan perdamaian itu di mana? Di forum apa? Karena forum perundingan perdamaian di Palestina dan Gaza saat ini hanya ada di BoP,” tutup Nusron.














