Menaker Tekankan Pentingnya Human Skills di Tengah Gempuran AI

JurnalPatroliNews – Jakarta – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli secara resmi menutup kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat) Ramadan bagi Pramuka Penegak dan Pandega se-Jabodetabek di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi, Minggu (8/3).

Dalam kesempatan tersebut, Menaker menekankan pentingnya konsep “Triple Readiness” bagi Generasi Z dan Milenial agar mampu bersaing di pasar kerja masa depan yang didominasi oleh teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Konsep “Triple Readiness” atau tiga kesiapan tersebut meliputi:

  1. Technical Skills: Penguasaan keahlian teknis sesuai bidang.
  2. Soft Skills: Kemampuan interpersonal dan pengelolaan diri.
  3. Market Entry Readiness: Kesiapan memahami dinamika dan tren pasar kerja global.

“Menghadapi tantangan dunia kerja saat ini, tidak cukup hanya dengan technical dan soft skills. Anak muda harus memiliki market entry readiness agar mampu menangkap peluang baru di tengah ketidakpastian global,” ujar Yassierli.

SDM yang Mampu Berkolaborasi dengan AI

Menaker menyoroti bahwa otomatisasi dan AI kini telah mengubah fundamental cara industri bekerja. Hal ini memicu lonjakan kebutuhan akan tenaga kerja berketerampilan tinggi (high-skilled labor).

Perusahaan kini mencari sumber daya manusia yang tidak sekadar mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga mahir merancang dan berkolaborasi dengan sistem AI.

Uniknya, meski teknologi berkembang pesat, Menaker memprediksi bahwa pada tahun 2030, delapan dari 11 keterampilan inti yang paling dibutuhkan adalah human skills.

Keterampilan tersebut meliputi kepemimpinan, berpikir analitis dan kreatif, ketahanan (resilience), rasa ingin tahu, motivasi diri, empati, hingga manajemen talenta. Kemampuan kognitif dan sosial inilah yang akan menjadi pembeda utama manusia dibandingkan mesin.

Kolaborasi Strategis untuk Masa Depan

Kegiatan Sanlat yang berlangsung pada 7–8 Maret 2026 ini merupakan hasil kolaborasi antara Kemnaker, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sebanyak 300 peserta tidak hanya mendapatkan penguatan karakter, tetapi juga pengenalan bidang vokasi mulai dari refrigerasi, las, elektronika, hingga teknologi informasi.

“Saya yakin konten Sanlat ini berbeda. Ini adalah Sanlat spesial karena adik-adik diarahkan untuk siap menghadapi masa depan kerja,” tegas Menaker.

Beliau berharap model kolaborasi ini dapat diadaptasi oleh institusi pendidikan lainnya agar pembinaan generasi muda memberikan bekal yang nyata dan relevan.