KNKT Targetkan Laporan Awal Kecelakaan Heli Airbus H-130T2 Rampung dalam 30 Hari

JurnalPatroliNews – Jakarta – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) saat ini tengah melakukan investigasi mendalam guna mengungkap penyebab jatuhnya helikopter PK-CFX milik Matthew Air Nusantara di Sekadau, Kalimantan Barat.

Kecelakaan yang melibatkan helikopter jenis Airbus Helicopters H-130T2 tersebut terjadi pada Kamis (16/4) dan mengakibatkan delapan orang di dalamnya meninggal dunia.

Investigator KNKT, Dian Saputra, menjelaskan bahwa helikopter jenis ini memiliki karakteristik teknis yang berbeda dengan pesawat terbang komersial besar. Salah satu perbedaan signifikan adalah ketiadaan perangkat kotak hitam (blackbox) yang biasanya terdiri dari Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR).

Analisis Engine Data Recorder ke Prancis Meskipun tidak dilengkapi dengan blackbox, petugas investigasi berhasil mengamankan perangkat engine data recorder. Perangkat ini menyimpan informasi teknis krusial terkait kondisi mesin sebelum kecelakaan terjadi, seperti tekanan oli, putaran mesin helikopter, dan parameter performa lainnya.

Guna memastikan keakuratan pembacaan data, KNKT akan mengirimkan perangkat tersebut ke pihak manufaktur di Prancis. Proses ini dilakukan melalui kerja sama dengan otoritas investigasi keselamatan transportasi Prancis untuk mendapatkan hasil analisis yang komprehensif.

Estimasi Laporan Investigasi Sesuai dengan prosedur standar, KNKT akan menerbitkan laporan awal (preliminary report) dalam kurun waktu 30 hari setelah kejadian.

+Laporan ini akan memuat data-data faktual yang ditemukan di lapangan, mulai dari kondisi cuaca saat kejadian hingga catatan performa mesin pada saat penerbangan berlangsung.

Sementara itu, laporan akhir (final report) yang berisi kesimpulan mengenai penyebab utama kecelakaan serta faktor-faktor yang berkontribusi diperkirakan akan dirilis dalam waktu maksimal 12 bulan. Laporan akhir tersebut nantinya juga akan memuat rekomendasi keselamatan bagi industri penerbangan.

Fokus pada Evaluasi Keselamatan Dian Saputra menegaskan bahwa proses yang dilakukan saat ini murni merupakan investigasi keselamatan (safety investigation).

Tujuan utamanya bukan untuk mencari kesalahan personal, melainkan untuk mempelajari kronologi insiden secara ilmiah guna menemukan celah keamanan yang perlu diperbaiki.

Melalui rekomendasi keselamatan yang akan dikeluarkan nantinya, KNKT berharap dapat memberikan masukan berharga bagi operator penerbangan agar peristiwa serupa tidak terulang kembali di masa depan. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan dalam meningkatkan standar keselamatan transportasi udara di Indonesia.