JurnalPatroliNews – Jakarta – Pusat Kajian Infrastruktur Strategis (PUKIS) menyoroti mandeknya pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Jalan Tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap atau Tol Getaci.
Proyek yang direncanakan menjadi jalan tol terpanjang di Indonesia ini dilaporkan telah dua kali gagal dalam proses lelang, yang mengindikasikan rendahnya minat investor terhadap skema yang ditawarkan saat ini.
Direktur Eksekutif PUKIS, M. M. Gibran Sesunan, menyatakan bahwa pemerintah harus segera mengubah strategi pembangunan agar proyek ini tetap berjalan.
Menurutnya, kegagalan lelang yang berulang menunjukkan bahwa hitung-hitungan bisnis proyek tersebut belum menarik bagi badan usaha di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
Faktor Penyebab Kurangnya Minat Investor Analisis PUKIS mengidentifikasi dua faktor utama yang menyebabkan Tol Getaci kurang laku di pasar.
Pertama, biaya investasi yang sangat tinggi tidak sebanding dengan proyeksi lalu lintas harian (LHR) kendaraan, terutama pada ruas Tasikmalaya menuju Cilacap. Kondisi ini membuat tingkat kelayakan proyek atau return on investment menjadi tidak signifikan bagi investor.
Kedua, iklim investasi infrastruktur secara umum sedang mengalami kelesuan. Hal ini diperparah dengan persepsi pasar yang melihat adanya pergeseran fokus kebijakan anggaran pemerintah saat ini, di mana anggaran infrastruktur dalam APBN cenderung menyusut dan tidak lagi menjadi prioritas utama seperti pada periode sebelumnya.
Tiga Opsi Strategis bagi Pemerintah Guna mengatasi kebuntuan tersebut, PUKIS menawarkan tiga alternatif strategi:
- Dukungan Konstruksi (Dukon): Pemerintah berpartisipasi langsung dalam anggaran pembangunan fisik guna berbagi beban dengan badan usaha. Namun, skema ini diprediksi sulit terealisasi mengingat kebijakan kementerian terkait yang mulai membatasi dukungan konstruksi pada proyek KPBU.
- Keterlibatan Badan Investasi Negara: Presiden dapat memerintahkan lembaga seperti Danantara atau Indonesia Investment Authority (INA) untuk memimpin konsorsium dalam proses lelang berikutnya. Langkah ini dianggap perlu sebagai bentuk kehadiran negara dalam menyukseskan proyek strategis yang dianggap memiliki nilai komersial namun berisiko tinggi bagi swasta murni.
- Revisi Lingkup Pengusahaan: Memecah ruas Tol Getaci menjadi dua paket lelang yang berbeda, yakni Gedebage-Tasikmalaya dan Tasikmalaya-Cilacap.
Ruas Gedebage-Tasikmalaya dinilai lebih mudah dijual karena potensi lalu lintas yang tinggi, sementara ruas kelanjutannya dapat ditawarkan kemudian setelah aktivitas ekonomi di wilayah penyangga sudah lebih matang.
Urgensi Terobosan Pemerintah Gibran menekankan pentingnya terobosan nyata agar proyek ini tidak terjebak dalam siklus lelang ulang yang terus gagal tanpa kemajuan. Fokus pembangunan hingga Tasikmalaya terlebih dahulu dipandang lebih realistis daripada memaksakan satu paket panjang yang membebani kapasitas finansial badan usaha.
Keberadaan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) sangat krusial karena bertanggung jawab atas perencanaan teknis, pengoperasian, hingga penyiapan dana talangan pembebasan lahan. Tanpa adanya investor yang masuk, konektivitas strategis antara Jawa Barat dan Jawa Tengah melalui jalur selatan dipastikan akan terus mengalami penundaan.














