Konstelasi Dibukanya Kembali Jalur Pelayaran di Selat Hormus, Diplomasi Trump Bersama Pasukan Saudagarnya: Indonesia Mesti Bagaimana?

Oleh: Andre Vincent Wenas


JurnalPatroliNews – Jakarta – Kali ini Trump membawa “pasukan saudagar”nya “menyerbu” Beijing. Tentu disambut karpet merah dan jamuan kenegaraan yang istimewa oleh Presiden Xi Jinping. Sambutan yang spesial itu sangat berkesan di hati para saudagar rombongan Trump, termonitor di beberapa kanal berita internasional.

Di daftar saudagar Trump hadir Elon Musk (Tesla dan SpaceX), Cristiano Amon (Qualcomm), Tim Cook (Apple), Lawrence Culp Jr (GE Aerospace), Larry Fink (Blackrock), Jane Fraser (Citigroup), Jensen Huang (Nvidia), Ryan McInerney (Visa), Sanjay Mehrotra (Mecron Technology), Michael Miebach (MasterCard), Kelly Ortberg (Boeing), Stephen Schwarzeman (Blackstone), Brian Sikes (Cargill), David Solomon (Goldman Sach) dan Jacob Thaysen (Illumina).

Rombongan pebisnis tajir melintir di bidang teknologi (termasuk biotech dan teknologi luar angkasa), keuangan dan perdagangan komoditi (commodity trading). Kabarnya China dan AS mulai melirik kemungkinan penambangan luar angkasa (space mining), sebuah peluang bisnis menjanjikan di masa depan. Kerjasama yang intensif antara kedua negara ini diprediksi bisa membawa lompatan-lompatan inovasi yang bisa memicu perubahan lanskap bisnis.

Ini diplomasi tingkat tinggi yang rumit juga interpretasinya. Tadinya kita dikasih cerita bahwa AS sedang bersaing dengan China, caranya dengan menggempur Iran (setelah sebelumnya menganeksasi Venezuela) untuk memutus supply energi (minyak) ke China. Venezuela sebelumnya sudah teken kontrak dengan China, begitu pun dengan Iran yang sekitar 80 persen produksi minyaknya dibeli dengan harga diskon oleh China. Kedua sumber minyak China ini diintervensi AS, pasokan berhenti.

Berbisnis minyak Iran ini China sudah untung besar dan di pihak Iran memandang China sebagai penyelamat ekonominya, akibat dari embargo yang dialaminya bertahun-tahun. Sebagai catatan, tingkat inflasi di Iran pada pertengahan 2026 sangatlah tinggi, laporan resmi menyebutkan angka di kisaran 53,7% hingga 67%. Dipicu oleh sanksi ekonomi serta ketegangan geopolitik, dan jatuhnya nilai tukar rial, yang menyebabkan harga pangan melonjak drastis di atas 115%.

Ditengah muramnya perekonomian Iran, sekarang AS dan China malah bermesraan di Beijing dalam perjamuan kenegaraan untuk “mempererat” perdagangan kedua bangsa. Saling puji memuji, melicinkan jalannya global-trade yang dibungkus dengan rayuan gombal. Dalam pidatonya Xi Jinping menyerukan supaya kedua negara tidak terjerembab ke dalam apa yang disebut sebagai “Thucydides trap”.

Apa itu “Thucydides Trap”? Ini sebuah teori yang bilang bahwa kekuatan yang sedang bangkit pasti akan menimbulkan ketakutan dan konflik dengan kekuatan yang sudah mapan. Ya, teori konflik yang mengasumsikan bahwa sebuah kekuatan yang baru bangkit (muncul) pastilah menyebabkan kekhawatiran dan tentunya pada akhirnya konflik dengan kekuatan lama (a theory that rising powers inevitably cause fear and conflict with established powers).