Di Balik Kebakaran Ngampon, Lansia Blora Kehilangan Tabungan Umrah Rp65 Juta


JurnalPatroliNews – BLORA – Musibah kebakaran yang melanda sebuah rumah di Desa Ngampon, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menyisakan duka mendalam bagi Parji (62). Rumah kayu yang selama puluhan tahun menjadi tempat tinggalnya bersama sang istri, Jasmani (61), ludes dilalap api pada Minggu dini hari (31/5/2026).

Namun bagi Parji, kehilangan tempat tinggal bukanlah satu-satunya pukulan berat. Kobaran api juga menghanguskan uang tunai sebesar Rp65 juta yang selama bertahun-tahun dikumpulkannya dari hasil penjualan sapi untuk mewujudkan impian menunaikan ibadah umrah.

Di tengah puing-puing rumah yang hangus, Parji menceritakan kesedihannya saat menerima kunjungan dan bantuan sosial dari Pemerintah Kecamatan Jepon serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam).

“Uang itu saya simpan dari hasil jual sapi. Rencananya untuk berangkat umrah. Tapi sekarang semuanya ikut terbakar,” ujar Parji dengan suara lirih.

Meski kehilangan tabungan yang dikumpulkan dengan susah payah, Parji memilih menerima musibah tersebut dengan lapang dada.

“Kalau memang sudah takdir, saya ikhlas. Yang penting saya dan keluarga masih diberi keselamatan,” katanya.

Parji mengaku tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharganya. Api yang muncul sekitar pukul 04.05 WIB dengan cepat membesar dan melalap seluruh bangunan rumah.

“Tahu-tahu api sudah besar. Kami hanya sempat keluar menyelamatkan diri. Tidak ada barang yang bisa dibawa keluar,” tuturnya.

Berdasarkan laporan Pemerintah Desa Ngampon, rumah kayu milik Parji yang berada di RT 03 RW 01 terbakar hingga rata dengan tanah. Selain uang tunai Rp65 juta, sejumlah barang berharga lainnya turut hangus, di antaranya satu unit sepeda motor Honda Revo, satu unit sepeda ontel, 13 sak gabah, dua sak pupuk urea, serta dokumen penting seperti KTP dan Kartu Keluarga.

Total kerugian akibat kebakaran tersebut ditaksir mencapai lebih dari Rp100 juta.

Camat Jepon, Andi Nurrohman, yang menemui langsung korban mengaku prihatin atas musibah yang dialami keluarga Parji. Menurutnya, uang yang terbakar bukan sekadar tabungan biasa, melainkan simbol harapan yang selama ini diperjuangkan korban untuk beribadah ke Tanah Suci.

“Pak Parji memiliki keinginan untuk berangkat umrah. Beliau baru berhasil mengumpulkan uang sekitar Rp65 juta dari hasil penjualan sapi. Uang itu disimpan di rumah dan ikut terbakar saat musibah terjadi,” kata Andi.

Ia menilai kehilangan tersebut menjadi pukulan berat bagi korban dan keluarganya.

“Tentu ini menjadi kehilangan yang sangat besar. Karena uang itu bukan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi untuk mewujudkan impian beliau berangkat ke Tanah Suci,” ujarnya.

Meski demikian, Andi mengaku terharu dengan ketegaran yang ditunjukkan Parji di tengah musibah yang menghanguskan hampir seluruh harta bendanya.

“Yang membuat kami terharu, beliau tetap tegar. Pak Parji menyampaikan bahwa semua ini sudah menjadi takdir Allah SWT. Sikap seperti ini menunjukkan ketabahan yang luar biasa,” katanya.

Sebagai bentuk kepedulian, Pemerintah Kecamatan Jepon bersama Koramil Jepon, Polsek Jepon, Pemerintah Desa Ngampon, PMI Kecamatan Jepon, dan sejumlah pihak terkait menyerahkan bantuan sosial berupa sembako serta santunan kepada keluarga korban.

“Hari ini kami hadir untuk memberikan dukungan moril sekaligus bantuan sosial. Memang bantuan ini tidak bisa mengganti seluruh kerugian yang dialami keluarga, tetapi kami berharap dapat sedikit meringankan beban mereka,” ujar Andi.

Pemerintah juga memastikan akan membantu pengurusan kembali dokumen kependudukan yang ikut terbakar agar korban dapat segera memperoleh dokumen pengganti.

“Dokumen penting seperti KTP dan KK akan kami bantu koordinasikan dengan instansi terkait agar bisa segera diterbitkan kembali,” katanya.

Saat ini Parji dan Jasmani untuk sementara tinggal di rumah anak mereka, Parsini, yang masih berada di lingkungan RT yang sama.

Di tengah kehilangan rumah, harta benda, dan tabungan umrah yang dikumpulkan selama bertahun-tahun, pasangan lansia tersebut tetap berusaha tegar menghadapi cobaan.

“Rezeki bisa dicari lagi. Kalau Allah menghendaki, mudah-mudahan suatu saat saya masih diberi kesempatan berangkat umrah,” ucap Parji sembari menatap puing-puing rumahnya yang kini tinggal kenangan.

Komentar