JurnalPatroliNews – Jakarta – Langkah cepat Sekretariat Kabinet dalam merespons dinamika penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi di tanah air mendapat perhatian dari pengamat sektor publik.
Pengamat politik sekaligus founder Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio yang akrab disapa Hensa, memberikan apresiasi atas keterbukaan informasi yang ditunjukkan oleh Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya.
Seskab Teddy diketahui turun langsung memberikan klasifikasi dan penjelasan komprehensif mengenai latar belakang kenaikan harga BBM jenis Pertamax melalui saluran komunikasi resmi media sosial Sekretariat Kabinet.
Menurut pandangan Hensa, penetapan langkah komunikasi digital tersebut menjadi bukti nyata adanya iktikad baik dari jajaran pemerintahan untuk tetap terhubung dan mendengarkan kegelisahan masyarakat luas.
Kendati memberikan catatan positif, Hensa menilai pola komunikasi publik terkait kebijakan strategis yang berdampak langsung pada hajat hidup orang banyak masih perlu dioptimalkan lebih jauh.
Ia menyarankan agar kebijakan penyesuaian tarif energi ke depan tidak hanya bertumpu pada publikasi media sosial, melainkan disampaikan secara berkala melalui forum konferensi pers formal yang disiarkan secara lisan.
Melalui ruang pemaparan yang lebih interaktif, masyarakat diharapkan bisa memperoleh rincian informasi yang utuh mengenai kalkulasi dasar penetapan harga hingga langkah mitigasi dampaknya.
Hensa menganggap pergerakan yang diambil oleh Teddy sudah berada di jalur yang benar sebagai bentuk pertanggungjawaban publik, walaupun beban komunikasi tersebut kini terlihat bertumpu pada figur Seskab yang pasang badan.
Sebelumnya, Seskab Teddy Indra Wijaya memberikan edukasi kepada publik bahwa komoditas Pertamax masuk dalam kategori produk bahan bakar komersial atau nonsubsidi yang pergerakan nilainya mutlak mengikuti hukum pasar minyak internasional.
Maklumat resmi tersebut sengaja diunggah guna meredam simpang siur informasi pasca-diberlakukannya penyesuaian tarif berkala kelolaan Pertamina yang efektif berjalan sejak medio pekan lalu.
Di samping itu, Teddy turut memberikan jaminan kepastian hukum bahwa pemerintah pusat berkomitmen kuat untuk tidak mengusik atau menaikkan harga jual komoditas BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar.
Komitmen perlindungan tarif bagi masyarakat kelas menengah ke bawah tersebut tetap dipertahankan oleh negara secara konsisten meskipun instabilitas harga pasokan energi global sedang bergejolak hebat.
Jika dikomparasikan dengan wilayah regional, nominal harga jual produk RON 92 di Indonesia diklaim masih berada pada ambang batas yang jauh lebih kompetitif ketimbang nilai jual di Filipina, Thailand, hingga Singapura.
Tekanan berat pada sektor hulu migas ini tidak terlepas dari eskalasi konflik bersenjata dan ketegangan geopolitik internasional di kawasan Timur Tengah yang melibatkan poros militer global dalam beberapa waktu terakhir.
Untuk menjaga keseimbangan fiskal, pemerintah menetapkan harga jual Pertalite tetap bersandar pada angka Rp10.000 per liter dan Solar subsidi dipatok stabil pada nominal Rp6.800 per liter.
Sementara itu, untuk penyesuaian harga keekonomian komoditas mandiri Pertamax mengalami perubahan kurva dari yang sebelumnya berada di level Rp12.300 kini disesuaikan menjadi Rp16.250 per liter.
Sebagai bentuk pemenuhan aspek keberimbangan informasi bagi publik, media ini membuka ruang hak jawab maupun klarifikasi sesuai ketentuan Undang-Undang Pers.















Komentar