BBM Subsidi Tetap Aman? Prabowo Minta Pemerintah Siapkan Berbagai Skenario

JurnalPatroliNews | Jakarta – Pemerintah mulai memperkuat langkah antisipatif menghadapi gejolak harga energi global yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Presiden Prabowo Subianto meminta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan berbagai simulasi terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai langkah mitigasi apabila harga minyak mentah dunia terus mengalami kenaikan.

Arahan tersebut disampaikan Presiden dalam rapat kabinet setelah harga minyak mentah acuan dunia sempat menembus 100 dolar Amerika Serikat per barel, level psikologis yang berpotensi memberikan tekanan terhadap fiskal nasional, khususnya pada sektor subsidi energi dan stabilitas ekonomi.

Menteri Keuangan Purbaya menjelaskan, Presiden tidak hanya meminta simulasi berdasarkan satu asumsi harga minyak, tetapi juga menginstruksikan penyusunan berbagai skenario guna mengantisipasi kemungkinan lonjakan harga yang lebih tinggi.

“Presiden meminta kami melakukan simulasi untuk berbagai skenario harga minyak, bukan hanya pada level 100 dolar AS per barel atau lebih. Saat ini seluruh dampaknya terhadap anggaran sedang kami hitung,” ujar Purbaya di Jakarta, Sabtu (25/7/2026).

Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar pemerintah memiliki ruang kebijakan yang memadai apabila volatilitas harga energi global terus berlanjut. Simulasi akan menjadi dasar dalam menentukan strategi fiskal sekaligus menjaga kesinambungan APBN.

Meski menyiapkan berbagai skenario, Purbaya memastikan pemerintah tetap berkomitmen mempertahankan stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi agar tidak membebani daya beli masyarakat.

“Untuk BBM bersubsidi akan tetap kami jaga,” tegasnya.

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah berupaya menyeimbangkan kebutuhan menjaga kesehatan fiskal dengan perlindungan terhadap masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Tekanan terhadap harga minyak dunia meningkat setelah pasar mengkhawatirkan potensi terganggunya distribusi minyak melalui Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Ketegangan keamanan di kawasan tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga sekitar 7 persen, sebelum ditutup di atas 100 dolar AS per barel pada perdagangan Kamis (23/7/2026).

Pada perdagangan berikutnya, Jumat (24/7/2026), harga Brent terkoreksi sekitar 0,72 persen menjadi 99,97 dolar AS per barel. Meski demikian, minyak acuan global itu masih berpotensi mencatat kenaikan mingguan sekitar 13,5 persen.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 0,76 persen ke level 91,49 dolar AS per barel, namun tetap menunjukkan potensi penguatan mingguan sekitar 10,9 persen.

Kenaikan harga minyak juga dipengaruhi meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk ancaman terhadap jalur pelayaran internasional. Situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan meminta Iran bertanggung jawab atas setiap serangan lanjutan yang mengganggu keamanan distribusi energi global.

Bagi Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah dan BBM, fluktuasi harga minyak internasional memiliki pengaruh langsung terhadap besaran subsidi energi, inflasi, nilai tukar rupiah, serta keseimbangan APBN. Karena itu, pemerintah memilih menyiapkan berbagai skenario sejak dini sebagai langkah mitigasi terhadap risiko yang mungkin berkembang.

Komentar