JurnalPatroliNews | Jakarta – Harga minyak dunia menutup perdagangan Jumat (31/7/2026) dengan penguatan signifikan dan mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak Maret. Lonjakan tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi global akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Pada akhir perdagangan, minyak mentah Brent ditutup menguat US$1,09 atau sekitar 1,2 persen ke level US$90,12 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,08 atau 1,3 persen menjadi US$84,67 per barel.
Sepanjang Juli, harga Brent tercatat melonjak sekitar 24 persen, sedangkan WTI menguat sekitar 21 persen, menjadikannya kenaikan bulanan paling tajam dalam empat bulan terakhir.
Sentimen utama yang mendorong kenaikan harga berasal dari meningkatnya risiko gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Jalur tersebut selama ini menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam global, sehingga setiap gangguan berpotensi memengaruhi keseimbangan pasar energi internasional.
Laporan dari kawasan menyebut sejumlah kapal tanker minyak mengubah rute pelayaran, sementara aktivitas pengiriman di Selat Hormuz masih berada di bawah kondisi normal. Situasi tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran dan berlanjutnya ancaman terhadap jalur pelayaran di kawasan Timur Tengah.
Di saat yang sama, ancaman terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Bab el-Mandeb di dekat Laut Merah juga memperbesar kekhawatiran pelaku pasar terhadap keamanan distribusi minyak dari negara-negara produsen utama di kawasan Teluk.
Meski sebagian kapal tanker masih mampu melintasi jalur tersebut, pelaku pasar tetap menilai risiko gangguan pasokan global masih cukup tinggi sehingga mendorong penguatan harga minyak.
Selain faktor geopolitik, pasar juga merespons penurunan cadangan minyak mentah Amerika Serikat. Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak komersial AS turun ke level terendah sejak 2018, memperkuat persepsi bahwa pasokan global sedang menghadapi tekanan.
Ketidakpastian juga meningkat setelah insiden kebakaran yang melibatkan kapal pengangkut gas di Pelabuhan Damietta, Mesir, serta langkah Arab Saudi yang mengumumkan penguatan kerja sama keamanan maritim di kawasan Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden.
Di sisi lain, produksi minyak mentah Amerika Serikat pada Mei tercatat mengalami penurunan sekitar dua persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, ekspor minyak Negeri Paman Sam justru terus meningkat dan mencatat rekor tertinggi selama dua bulan berturut-turut.
Meski harga minyak terus menanjak, tingginya biaya energi mulai berdampak terhadap konsumsi. Permintaan minyak mentah dan produk turunannya di Amerika Serikat dilaporkan menurun lebih dari 3,5 persen pada Mei menjadi sekitar 20,07 juta barel per hari, level terendah sejak Maret 2025.
Analis menilai pergerakan harga minyak dalam beberapa pekan ke depan masih akan sangat dipengaruhi perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah, keamanan jalur pelayaran internasional, serta dinamika pasokan dan permintaan energi global.















Komentar