JurnalPatroliNews | Kuala Lumpur — Penangkapan seorang pilot Malaysia Airlines di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) terkait dugaan penyelundupan narkotika berbuntut pada pemeriksaan besar-besaran di lingkungan grup penerbangan Malaysia Aviation Group (MAG).
Malaysia Airlines sebelumnya telah menyelesaikan pemeriksaan narkoba wajib terhadap 1.260 pilot aktif, dan seluruh hasilnya dinyatakan negatif. Kini, pemeriksaan diperluas kepada 2.840 awak kabin Malaysia Airlines mulai Selasa (18/8/2026) hingga ditargetkan rampung pada 3 September.
Langkah tersebut dilakukan setelah pilot Malaysia Airlines berusia 39 tahun, Mohd Saufi bin Othman, ditangkap aparat Indonesia pada 29 Juli 2026 setelah tiba di Bandara Soekarno-Hatta menggunakan penerbangan MH727 dari Kuala Lumpur.
Otoritas Indonesia menyebut barang bukti yang ditemukan mencapai sekitar 70.114 pil ekstasi dengan berat hampir 26 kilogram, ditambah sekitar empat gram metamfetamin. Saufi kemudian ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan untuk menjalani proses hukum di Indonesia.
Hasil pemeriksaan urine terhadap Saufi juga dilaporkan menunjukkan tiga zat narkotika, yakni metamfetamin, MDMA/ekstasi, dan kokain.
Setelah pemeriksaan terhadap seluruh pilot aktif selesai, MAG melanjutkan penapisan terhadap awak kabin Malaysia Airlines.
Sebanyak 2.840 awak kabin dijadwalkan menjalani tes narkoba mulai 18 Agustus dan ditargetkan selesai pada 3 September 2026.
Jadwal tersebut lebih cepat dari tenggat 5 September yang ditetapkan Otoritas Penerbangan Sipil Malaysia (CAAM).
MAG juga melakukan pemeriksaan terhadap personel maskapai saudaranya, Firefly. Hingga 15 Agustus, lebih dari separuh dari 158 pilot dan 163 awak kabin Firefly telah menjalani pemeriksaan dan seluruh hasil yang tersedia dinyatakan negatif.
Pemeriksaan Firefly diperkirakan rampung pada 25 Agustus 2026.
Presiden sekaligus CEO Grup MAG, Capt Nasaruddin A. Bakar, mengatakan penyelesaian tahap awal pemeriksaan menjadi bagian penting dari langkah penguatan keselamatan dan integritas operasional perusahaan.
“Penyelesaian tahap pertama ini merupakan tonggak penting dalam langkah-langkah yang telah kami komitmenkan untuk diterapkan. Namun, pekerjaan tidak berhenti sampai di sini. Kami akan melanjutkan pemeriksaan terhadap kelompok operasional lainnya sehingga standar ketat yang sama diterapkan di seluruh maskapai kami,” kata Nasaruddin.
MAG menyatakan pemeriksaan tidak berhenti pada program penapisan saat ini. Perusahaan juga akan menjalankan tes narkoba secara acak yang dipimpin tim keselamatan dan kesehatan.
Kebijakan tersebut akan berjalan berdampingan dengan kerangka fitness for duty atau kelayakan seseorang untuk menjalankan tugas.
Kerangka tersebut mencakup pemeriksaan sebelum bekerja, sertifikasi medis, hingga pemeriksaan sebelum penerbangan.
MAG juga memberikan penjelasan mengenai status Saufi ketika ditangkap di Soetta.
Saufi yang berpangkat second officer disebut sedang dalam kondisi off duty atau tidak menjalankan tugas sebagai pilot penerbangan ketika tiba di Jakarta.
Menurut MAG, ia berada di kursi tambahan (jump seat) di kokpit sebagai pengamat (observer).
Namun, kasus tersebut tetap menjadi perhatian serius karena penangkapan dilakukan setelah pesawat MH727 tiba di Bandara Soekarno-Hatta.
Otoritas Indonesia sebelumnya menyatakan Saufi diduga membawa narkotika di dalam bagasinya. Penyidik juga tengah mengembangkan perkara untuk mengungkap jaringan yang diduga berada di balik pengiriman narkotika tersebut.
Penanganan kasus tersebut juga mendapat perhatian otoritas Malaysia.
Penyidik dari Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM) disebut telah datang ke Jakarta untuk memeriksa Saufi yang saat ini ditahan penyidik Polri.
Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam perkembangan penyidikan, Saufi diduga telah terlibat dalam aktivitas penyelundupan narkotika sebelum penangkapan di Soetta.
Kasus tersebut masih terus dikembangkan untuk mengungkap kemungkinan keterlibatan pihak lain dan jaringan peredaran narkotika yang lebih luas.
Bagi MAG, pemeriksaan massal terhadap pilot dan awak kabin merupakan langkah preventif untuk memastikan seluruh personel yang menjalankan fungsi operasional memenuhi standar keselamatan.
Dengan pemeriksaan narkoba secara berkala, acak, serta penerapan kerangka fitness for duty, perusahaan berupaya memperketat pengawasan terhadap kondisi personel yang berkaitan langsung dengan operasional penerbangan.
Penangkapan Saufi di Indonesia dengan membawa puluhan kilogram narkotika akhirnya mendorong evaluasi lebih luas di lingkungan Malaysia Airlines dan maskapai lain di bawah MAG.
Kini ribuan pilot dan awak kabin diperiksa, sementara MAG mempertegas bahwa standar keselamatan, integritas, dan kelayakan bertugas harus diterapkan secara konsisten di seluruh lini operasional.















Komentar