Air Sungai Mahakam Menyusut, Jalur ke Mahakam Ulu Lumpuh? Ini Dampaknya

JurnalPatroliNews | Kutai Barat — Sungai Mahakam yang menjadi salah satu urat nadi transportasi di Kalimantan Timur mulai menghadapi persoalan serius akibat debit air yang terus menyusut. Kondisi tersebut membuat aktivitas pelayaran dari Kabupaten Kutai Barat (Kubar) menuju Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) terganggu.

Sejumlah kapal pengangkut barang dan penumpang dari arah Samarinda kini disebut hanya mampu mencapai wilayah Long Iram. Perjalanan menuju Mahulu belum dapat dilanjutkan karena beberapa bagian alur sungai semakin dangkal dan sulit dilalui.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kutai Barat, Rita Nursandy, mengatakan penyusutan debit Sungai Mahakam membuat kapal berukuran besar menghadapi risiko kandas.

“Kalau kapal motor yang mengangkut barang dan penumpang dari Samarinda, saat ini hanya sampai Long Iram. Tidak sampai Mahulu karena sudah tidak memungkinkan melanjutkan perjalanan,” ujar Rita saat dikonfirmasi, Selasa (18/8/2026).

Kondisi sungai bahkan mulai memperlihatkan kemunculan bebatuan di sejumlah titik. Dangkalnya alur tersebut menjadi hambatan serius bagi kapal yang hendak menuju kawasan hulu.

Gangguan tidak hanya dirasakan kapal penumpang maupun kapal pengangkut barang. Kapal berukuran besar dan tongkang juga tidak lagi leluasa melintasi sejumlah bagian Sungai Mahakam menuju Mahulu.

“Kalau tongkang, jelas tidak bisa. Bisa sangkut,” kata Rita.

Menurut dia, kondisi tersebut semakin memburuk dalam satu hingga dua pekan terakhir. Penyusutan debit sungai sebenarnya telah mulai dirasakan sekitar sebulan terakhir, tetapi dampaknya semakin signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

“Sudah satu bulanan ini mulai terasa, tetapi yang lebih parah sekitar satu minggu sampai dua minggu terakhir. Sungainya semakin mengecil,” ujarnya.

Situasi ini menjadi perhatian karena Sungai Mahakam selama ini bukan sekadar jalur transportasi, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam menopang pergerakan barang dan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah pedalaman.

Terbatasnya pelayaran membuat distribusi logistik menuju Mahulu harus mencari jalur alternatif. Transportasi darat kini menjadi pilihan yang semakin banyak digunakan untuk menggantikan peran angkutan sungai.

Menurut Rita, kondisi musim kemarau membuat akses jalan relatif lebih mudah dibandingkan saat curah hujan tinggi.

“Kalau transportasi sungai tidak bisa dilewati, otomatis lewat darat. Apalagi musim kemarau seperti sekarang, tidak hujan sehingga jalan tidak becek,” jelasnya.

Namun, perpindahan beban logistik ke jalur darat bukan tanpa persoalan. Sejumlah infrastruktur jalan menuju Mahulu masih membutuhkan perbaikan.

Rita menyebut Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) masih mengerjakan sejumlah ruas jalan nasional di Kutai Barat dengan dukungan anggaran pemerintah pusat.

“BPJN masih melakukan perbaikan jalan kita sesuai dengan anggaran yang dikucurkan pemerintah pusat ke Kalimantan Timur, khususnya jalan nasional di Kutai Barat,” katanya.

Bagi masyarakat Kutai Barat dan Mahakam Ulu, kondisi Sungai Mahakam memiliki dampak langsung terhadap aktivitas sehari-hari. Ketika jalur sungai terganggu, distribusi kebutuhan masyarakat hingga pergerakan penumpang ikut terdampak.

Rita menjelaskan, sistem transportasi di wilayah tersebut selama ini mengandalkan tiga moda utama, yakni jalur darat, sungai, dan udara.

Namun, masing-masing memiliki fungsi berbeda. Transportasi udara lebih banyak digunakan untuk mobilitas penumpang, sementara pengiriman barang dalam volume besar selama ini sangat bergantung pada jalur sungai.

“Urat nadi perekonomian kita selama ini di Kalimantan Timur lebih banyak melalui transportasi sungai,” ungkapnya.

Karena itu, ketika Sungai Mahakam tidak lagi dapat dilalui kapal secara optimal, tekanan terhadap jaringan jalan darat otomatis meningkat.

“Kalau lewat sungai tidak bisa, otomatisnya lewat darat,” kata Rita.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemarau tidak hanya berdampak pada sektor pertanian dan ketersediaan air, tetapi juga dapat mengganggu rantai pasok dan konektivitas wilayah pedalaman.

Dengan Sungai Mahakam yang semakin dangkal, kelancaran distribusi menuju Mahakam Ulu kini sangat bergantung pada kesiapan jalur alternatif, terutama infrastruktur jalan darat. Jika debit sungai terus menyusut, penguatan konektivitas darat menjadi semakin penting untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap dapat dipasok.

Komentar