JurnalPatroliNews | Jakarta — Wacana penyesuaian tarif masuk Taman Margasatwa Ragunan (TMR) kembali menjadi perhatian. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan DPRD DKI Jakarta mendorong agar setiap kenaikan tarif benar-benar diikuti peningkatan kualitas pelayanan serta pengalaman baru bagi masyarakat.
Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin mengatakan penyesuaian harga tiket dapat dipertimbangkan selama tetap memperhatikan kemampuan masyarakat. Menurutnya, Ragunan merupakan ruang rekreasi publik yang selama ini menjadi salah satu destinasi wisata terjangkau bagi warga Jakarta dan sekitarnya.
Wacana yang berkembang menyebut tarif pengunjung dewasa berada pada kisaran Rp4.000 hingga Rp10.000, sedangkan tiket anak-anak sekitar Rp3.000 hingga Rp7.500.
“Bukan soal setuju atau tidak setuju tarif naik. Yang penting, ketika masyarakat membayar lebih, mereka harus merasakan ada peningkatan layanan dan sesuatu yang baru,” ujar Suhud melalui keterangan resminya, Kamis (10/9/2026).
Tarif Naik Harus Ada Manfaat yang Terasa
Suhud menekankan, penyesuaian tarif tidak semestinya hanya dilihat dari sisi peningkatan pendapatan pengelola.
Menurut dia, masyarakat harus memperoleh manfaat yang bisa dirasakan secara langsung, mulai dari kualitas fasilitas, kenyamanan kawasan, pelayanan pengunjung hingga pengalaman edukasi dan rekreasi.
Karena itu, DPRD DKI Jakarta akan menjalankan fungsi pengawasan agar kebijakan tarif nantinya memiliki dasar yang jelas dan berorientasi pada peningkatan kualitas layanan publik.
“Kita dukung Pemprov melakukan pembenahan. Tetapi DPRD tetap memiliki fungsi pengawasan agar kebijakan yang dibuat benar-benar memberikan manfaat bagi warga,” tegas Suhud.
Ragunan Diminta Tak Bergantung pada Tiket
Suhud juga mendorong pengelola Ragunan memperluas sumber pendapatan di luar tiket masuk.
Konsep pembiayaan kreatif atau creative financing dinilai dapat dikembangkan untuk menopang peningkatan kualitas kawasan tanpa seluruh beban biaya harus dialihkan kepada pengunjung melalui kenaikan tarif.
Sejumlah sektor yang dinilai memiliki potensi antara lain kegiatan edukasi, fasilitas rekreasi, kuliner, suvenir, atraksi, hingga ruang kreatif yang dapat memberikan nilai tambah bagi pengunjung.
“Jangan hanya mengandalkan tiket. Pemerintah dan pengelola perlu mencari sumber pendapatan lain sehingga peningkatan kualitas tidak selalu dibebankan kepada masyarakat melalui kenaikan tarif,” ungkap Suhud.
Menurutnya, pengembangan sumber pendapatan alternatif juga dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan pelaku usaha dan masyarakat.
Tetap Terjangkau bagi Masyarakat
Suhud mengapresiasi langkah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang masih mempertimbangkan aspek keterjangkauan sebelum menetapkan tarif baru.
Pertimbangan tersebut dinilai penting karena Ragunan memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar destinasi wisata. Taman margasatwa tersebut juga menjadi ruang publik yang digunakan masyarakat untuk rekreasi sekaligus pembelajaran mengenai satwa dan konservasi.
Karena itu, keputusan akhir mengenai tarif diharapkan mampu menemukan titik keseimbangan antara kebutuhan pembenahan pengelolaan dengan kemampuan ekonomi masyarakat.
Suhud menilai Ragunan harus terus berbenah tanpa kehilangan karakter sebagai destinasi wisata rakyat.
Menuju Ruang Publik Berstandar Kota Global
Peningkatan kualitas Ragunan, menurut Suhud, juga merupakan bagian dari agenda pembangunan Jakarta sebagai kota global.
Ruang publik dinilai harus mampu menghadirkan fasilitas yang modern dan berkualitas, tetapi tetap mudah diakses masyarakat luas.
“Jakarta sebagai kota global harus punya ruang publik yang berkualitas. Ragunan harus bisa menjadi tempat rekreasi, edukasi, dan konservasi yang modern, tetapi tetap dekat dan terjangkau bagi masyarakat,” pungkas Suhud.
Dengan demikian, perdebatan mengenai tarif masuk Ragunan tidak semata-mata berkutat pada angka tiket. Tantangan sebenarnya adalah memastikan setiap rupiah yang dibayarkan pengunjung berbanding lurus dengan kualitas fasilitas, pelayanan, keamanan, edukasi, dan pengalaman yang mereka peroleh.
Bagi DPRD DKI, Ragunan idealnya tidak berubah menjadi destinasi yang semakin mahal, tetapi menjadi ruang publik yang semakin berkualitas tanpa meninggalkan fungsi sosialnya bagi masyarakat.















Komentar