Plt Bupati Pemalang: Tak Ada Toleransi Bullying, Semua Sekolah Harus Pasang CCTV

JurnalPatroliNews | Pemalang — Pemerintah Kabupaten Pemalang mengambil langkah evaluasi menyusul meninggalnya Muhammad Hasbi Al Aqib (7), seorang siswa sekolah dasar yang sebelumnya diduga mengalami kekerasan dari kakak kelasnya.

Kasus tersebut kini masih dalam penanganan aparat kepolisian. Pemerintah Kabupaten Pemalang juga menunggu hasil autopsi untuk memastikan penyebab kematian korban.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pemalang Nurkholes menegaskan pemerintah daerah tidak menoleransi tindakan perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan.

“Pemerintah tidak mentolerir adanya bullying atau perundungan. Dan kita harap kejadian ini adalah kejadian yang terakhir, tidak ada lagi,” kata Nurkholes, Jumat (2/10/2026).

Pemkab Evaluasi Sistem Pengawasan Sekolah

Nurkholes mengatakan Pemkab Pemalang akan mengumpulkan pihak-pihak terkait melalui Dinas Pendidikan untuk mengevaluasi mekanisme pengawasan dan perlindungan anak di sekolah.

Salah satu langkah yang menjadi perhatian adalah keberadaan serta fungsi kamera pengawas atau CCTV.

Menurut dia, CCTV harus menjadi bagian dari sistem pengawasan sekolah yang benar-benar berfungsi, bukan sekadar perangkat yang terpasang secara fisik.

“Dan yang jelas seluruh sekolah harus pasang CCTV,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah diketahui CCTV di sekolah tempat korban belajar tidak berjalan optimal ketika dugaan kejadian berlangsung.

Pemkab Pemalang menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap kondisi tersebut sekaligus memperkuat konsep sekolah ramah anak.

Dugaan Kekerasan Masih Didalami

Berdasarkan informasi yang disampaikan pemerintah daerah dan keluarga korban, dugaan kekerasan terjadi setelah adanya senggolan yang kemudian berujung pada pemukulan.

Nurkholes mengatakan setelah kejadian, korban masih mengikuti aktivitas sekolah seperti biasa. Beberapa hari kemudian kondisi kesehatan korban mulai memburuk hingga akhirnya menjalani perawatan di rumah sakit.

“Pada saat kejadian itu, siswa sudah diinterogasi dan tidak ada rasa sakit tidak apa. Termasuk yang bertengkar sudah dimediasi,” kata Nurkholes.

Pihak sekolah disebut telah membuat kronologi dan melakukan penanganan terhadap siswa yang terlibat.

Namun, pemerintah daerah mengakui masih terdapat sejumlah hal yang perlu dievaluasi, terutama terkait efektivitas pengawasan terhadap anak dan penyampaian informasi kepada orang tua.

Hasil Autopsi Masih Ditunggu

Nurkholes menegaskan pemerintah masih menunggu hasil autopsi dari pihak berwajib.

Hasil tersebut penting untuk mengetahui kondisi medis korban dan memastikan penyebab kematian berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan secara resmi.

Karena itu, dugaan bahwa peristiwa kekerasan di sekolah menjadi penyebab langsung kematian korban masih harus dibuktikan melalui proses medis dan penyelidikan kepolisian.

Pemerintah daerah memilih menunggu hasil pemeriksaan resmi sambil menyiapkan langkah perbaikan terhadap sistem pengawasan sekolah.

Ibu Korban Mengaku Baru Mengetahui Dugaan Perundungan

Sementara itu, ibu korban, Diah Indriyanti, mengatakan dirinya semula tidak mengetahui dugaan tindakan perundungan yang dialami anaknya.

Informasi tersebut baru diketahui setelah Aqib menjalani pemeriksaan medis. Menurut Diah, ketika diperiksa dokter, anaknya menceritakan adanya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kakak kelas.

“Dia jawab setelah diperiksa dokter dan bilang kalau dipukul di bagian perut, ditendang memakai sepatu,” ujar Diah.

Keterangan tersebut kemudian menjadi bagian dari informasi yang disampaikan keluarga kepada pihak terkait.

Sembilan Hari Dirawat di Rumah Sakit

Diah mengatakan Aqib sempat menjalani perawatan di RSUD Dr. Azhari Pemalang sejak Kamis (17/9/2026).

Korban disebut menjalani perawatan selama sembilan hari sebelum diperbolehkan pulang.

Namun kondisi Aqib kembali memburuk setelah berada di rumah. Menurut keterangan ibunya, korban masih mengeluhkan sakit dan mengalami gangguan pada aktivitas fisiknya.

“Sejak tanggal 17 September dia tidak bisa jalan. Selama empat hari juga tidak bisa BAB dan pipis,” kata Diah.

Diah juga menyebut hasil pemeriksaan berupa rontgen dan ultrasonografi (USG) menunjukkan adanya peradangan.

Ia mengatakan terdapat memar berwarna biru pada bagian perut dan kaki anaknya.

“Anak saya memang pegang perut. Dan di bagian perut dan kaki ada memar berwarna biru, dia dirawat di RS selama sembilan hari,” ujarnya.

Korban Meninggal Saat Dibawa ke Rumah Sakit

Setelah kondisi kembali menurun, keluarga membawa Aqib ke rumah sakit.

Namun korban meninggal dunia pada Rabu (30/9/2026) dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Keluarga kemudian meminta penjelasan kepada pihak sekolah terkait dugaan kejadian yang dialami Aqib.

Diah mengaku kecewa karena pihak keluarga tidak memperoleh pemberitahuan dari sekolah mengenai kondisi Aqib ketika menjalani perawatan.

“Saya sudah klarifikasi ke sekolah bersama suami. Bahkan dari pihak sekolah tidak ada sama sekali pemberitahuan bahwa ada murid masuk rumah sakit sampai sembilan hari,” katanya.

Polisi Masih Mengumpulkan Keterangan

Kasus dugaan kekerasan terhadap Aqib juga tengah ditangani aparat kepolisian.

Pemeriksaan terhadap sejumlah pihak dilakukan untuk mengetahui rangkaian peristiwa dan kondisi yang terjadi sebelum korban menjalani perawatan hingga meninggal dunia.

Sementara itu, pemerintah daerah menyatakan akan mendengar keterangan keluarga korban sebagai bagian dari evaluasi internal.

Nurkholes mengatakan pemerintah tidak hanya akan melihat persoalan dari sisi kejadian, tetapi juga mengevaluasi bagaimana sekolah melakukan pembinaan, pengawasan serta merespons persoalan antarsiswa.

CCTV Tak Boleh Hanya Terpasang

Bagi Pemkab Pemalang, keberadaan CCTV menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat pengawasan di lingkungan pendidikan.

Namun, pengalaman dalam kasus ini menunjukkan bahwa keberadaan kamera pengawas harus disertai sistem pemantauan dan pemeliharaan agar dapat berfungsi ketika dibutuhkan.

Pemkab juga akan mendorong sosialisasi mengenai sekolah ramah anak dan pencegahan kekerasan terhadap anak di berbagai kecamatan.

Langkah tersebut diarahkan untuk membangun lingkungan pendidikan yang lebih aman serta membuka ruang bagi siswa dan orang tua untuk menyampaikan persoalan yang terjadi di sekolah.

Orang Tua Diminta Tidak Takut Melapor

Nurkholes juga mengimbau orang tua tidak ragu melaporkan apabila mengetahui adanya dugaan bullying atau kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah.

Menurutnya, kekhawatiran orang tua untuk menyampaikan laporan justru dapat membuat persoalan tidak segera diketahui dan ditangani.

Karena itu, pemerintah daerah ingin membangun mekanisme yang memungkinkan laporan mengenai kekerasan anak dapat diterima lebih cepat dan ditindaklanjuti sesuai prosedur.

Menunggu Fakta Resmi

Kasus meninggalnya Aqib kini berada dalam proses penanganan yang membutuhkan pembuktian dari berbagai sisi.

Kesaksian keluarga, keterangan pihak sekolah, kondisi medis korban, hasil autopsi dan pemeriksaan aparat penegak hukum akan menjadi bagian penting untuk mengetahui rangkaian peristiwa secara utuh.

Pemerintah Kabupaten Pemalang menyatakan akan melakukan evaluasi internal sembari menunggu proses hukum berjalan.

Di saat yang sama, penguatan sekolah ramah anak dan kewajiban memastikan CCTV berfungsi menjadi langkah yang didorong untuk mencegah kejadian serupa.

Terlepas dari proses hukum yang masih berlangsung, kasus ini kembali menempatkan perlindungan anak sebagai perhatian utama di lingkungan pendidikan. Setiap dugaan kekerasan terhadap siswa perlu ditangani sejak dini melalui pengawasan, keberanian melapor, dan mekanisme penanganan yang jelas.

Komentar