JurnalPatroliNews | Gaza — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa keterlambatan dan penolakan berulang terhadap pengiriman perlengkapan medis ke Jalur Gaza dapat memperburuk krisis kesehatan menjelang datangnya musim dingin.
Persoalan tersebut menjadi semakin mendesak karena kebutuhan kesehatan masyarakat Gaza masih sangat besar, sementara sistem pelayanan kesehatan belum sepenuhnya pulih. WHO mencatat hingga September 2026 hanya 19 dari 36 rumah sakit di Gaza yang masih berfungsi sebagian, sementara tidak ada satu pun rumah sakit yang beroperasi secara penuh. Lebih dari dua juta orang juga masih bergantung pada bantuan kemanusiaan.
Perwakilan WHO di Palestina, Reinhilde van De Weerdt, mengatakan bantuan yang tiba terlambat berisiko kehilangan nilai kemanusiaannya, terutama ketika pasokan tersebut dibutuhkan untuk menyelamatkan pasien dalam kondisi kritis.
“A truck full of non-priority supplies or the right supplies arriving too late, doesn’t save lives,” kata Van De Weerdt, dikutip dalam pemberitaan internasional pada Sabtu (3/10/2026).
Bantuan Medis Tak Cukup Hanya Tersedia
WHO menekankan bahwa persoalan di Gaza bukan semata-mata jumlah bantuan, tetapi juga kecepatan dan kepastian akses barang tersebut ke fasilitas kesehatan.
Pasokan obat, alat diagnostik, peralatan medis, bahan rehabilitasi hingga perangkat prostetik harus dapat masuk dalam skala yang sesuai kebutuhan.
WHO sebelumnya mencatat kebutuhan rehabilitasi di Gaza telah berkembang sangat besar. Lebih dari 6.600 orang membutuhkan layanan rehabilitasi jangka panjang setelah mengalami amputasi, sementara sebagian besar fasilitas rehabilitasi masih menghadapi keterbatasan tenaga, peralatan dan pasokan.
Kondisi tersebut membuat keterlambatan alat bantu bukan sekadar persoalan logistik. Bagi pasien yang kehilangan anggota tubuh, keterlambatan dapat berarti semakin panjangnya waktu menunggu untuk mendapatkan pemulihan fungsi tubuh.
Pengiriman Prostetik Menghadapi Hambatan
Dalam perkembangan yang disampaikan WHO, pengiriman perlengkapan prostetik dan alat bantu menjadi salah satu jenis bantuan yang menghadapi hambatan paling berat.
Data mekanisme pelacakan bantuan PBB yang dianalisis WHO menunjukkan bahwa dalam periode enam bulan hingga April 2026, empat pengiriman yang dikategorikan sebagai produk bantuan rehabilitasi ditolak masuk ke Gaza, sementara 18 pengiriman lainnya masih berstatus tertunda. Rata-rata waktu tunggu untuk pengiriman yang tertunda mencapai 136 hari.
Barang yang tertahan mencakup kursi roda, anggota tubuh prostetik, perlengkapan fasilitas rehabilitasi serta berbagai alat bantu untuk perawatan dan kebutuhan sehari-hari.
Data tersebut menunjukkan bahwa hambatan distribusi masih menjadi persoalan serius meskipun sebagian bantuan medis lainnya dapat masuk.
Obat Lebih Lancar, tetapi Belum Menjawab Semua Kebutuhan
Van De Weerdt menyebut pergerakan obat-obatan relatif lebih mudah dibandingkan pengiriman alat rehabilitasi dan perangkat medis tertentu.
Dalam data yang dikutip dari laporan tersebut, sekitar 87 persen pengiriman obat mendapat persetujuan, sementara sedikit lebih dari 1 persen disebut ditolak. Namun, WHO mengingatkan bahwa angka persetujuan tersebut tidak otomatis berarti kebutuhan obat di seluruh Gaza telah terpenuhi.
Masalah juga muncul karena pengiriman yang belum mendapat persetujuan harus kembali melalui proses administrasi, sehingga waktu distribusi menjadi lebih panjang.
Bagi obat dan bahan medis yang memiliki masa kedaluwarsa, setiap tambahan waktu dalam penyimpanan atau perjalanan dapat mengurangi masa penggunaannya ketika akhirnya sampai ke fasilitas kesehatan.
Musim Dingin Membawa Risiko Baru
WHO memperingatkan bahwa datangnya musim dingin berpotensi memperbesar tekanan terhadap masyarakat yang masih tinggal di tempat penampungan sementara.
Sebagian besar warga Gaza masih hidup dalam kondisi padat dan banyak yang tinggal di tenda. WHO menyebut mayoritas penduduk tetap berada di kamp-kamp tenda yang penuh sesak. Sementara itu, limbah, air tercemar dan sistem sanitasi yang terbatas meningkatkan risiko penyakit.
Persoalan tersebut dapat memburuk ketika hujan datang.
WHO memperingatkan banjir berpotensi membawa air limbah dan air tercemar ke kawasan padat penduduk. Kondisi ini dapat meningkatkan penyebaran penyakit, terutama ketika kemampuan pemantauan kesehatan masyarakat dan pemeriksaan laboratorium masih terbatas.
Laboratorium Kesehatan Masih Terbatas
Keterbatasan fasilitas laboratorium menjadi persoalan lain yang disorot WHO.
Kerusakan dan keterbatasan kapasitas laboratorium kesehatan masyarakat membuat pemantauan terhadap kontaminasi air maupun penyakit menular menjadi lebih sulit.
WHO menyatakan kasus diare akut berair hampir dua kali lipat pada 2026, dari sekitar 30.000 kasus pada Maret menjadi lebih dari 58.000 pada Agustus, menurut data yang disampaikan perwakilan WHO di Palestina. Kondisi air dan sanitasi diperkirakan dapat semakin memburuk selama musim dingin.
Karena itu, akses terhadap perlengkapan laboratorium dan diagnostik tidak kalah penting dibandingkan obat-obatan.
Lebih dari Dua Juta Orang Masih Bergantung Bantuan
Krisis kesehatan Gaza juga berlangsung dalam situasi kemanusiaan yang berkepanjangan.
WHO menyebut lebih dari dua juta orang di Gaza masih bergantung pada bantuan kemanusiaan. Pada saat yang sama, ribuan warga membutuhkan perawatan khusus yang tidak tersedia di dalam wilayah tersebut.
Sejak Oktober 2023, WHO memperkirakan sekitar 12.400 pasien telah dievakuasi secara medis dari Gaza, tetapi masih ada puluhan ribu lainnya yang membutuhkan perawatan khusus di luar wilayah tersebut.
Situasi itu memperlihatkan bahwa pemulihan sistem kesehatan tidak hanya bergantung pada masuknya obat dan alat medis, tetapi juga pada tersedianya jalur rujukan serta evakuasi medis.
WHO Minta Akses Bantuan Dipermudah
WHO menyerukan agar perlengkapan medis, obat, alat rehabilitasi dan berbagai pasokan kesehatan dapat masuk ke Gaza tanpa hambatan dan penundaan yang tidak perlu.
Organisasi tersebut juga mendorong agar mekanisme bantuan dibuat lebih cepat, dapat diprediksi dan memungkinkan penggunaan lebih dari satu jalur penyeberangan.
Tujuannya adalah memastikan kebutuhan rumah sakit dan fasilitas kesehatan dapat dipenuhi secara berkelanjutan, bukan melalui pengiriman yang tersendat atau datang setelah kebutuhan sudah berubah.
WHO menegaskan bahwa akses kemanusiaan yang cepat dan berkelanjutan merupakan bagian penting untuk mencegah memburuknya kondisi kesehatan masyarakat Gaza.
Ancaman Bukan Hanya Penyakit
Menjelang musim dingin, ancaman kesehatan di Gaza memiliki banyak lapisan.
Warga menghadapi tempat berlindung yang tidak memadai, risiko banjir, air tercemar, sanitasi terbatas, keterbatasan obat dan alat medis, serta kapasitas rumah sakit yang masih jauh dari kondisi normal.
Dalam situasi seperti itu, keterlambatan bantuan dapat berpengaruh langsung terhadap kemampuan tenaga kesehatan menangani pasien.
Persoalan rehabilitasi juga memperlihatkan konsekuensi jangka panjang. Orang yang kehilangan anggota tubuh tidak hanya membutuhkan tindakan medis awal, tetapi juga prostetik, fisioterapi dan rehabilitasi berkelanjutan agar dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari. WHO sebelumnya menegaskan bahwa kebutuhan tersebut masih sangat besar.
Gaza Memasuki Musim Dingin dengan Sistem Kesehatan yang Rapuh
Musim dingin mendatang menjadi ujian lain bagi sistem kesehatan Gaza.
WHO telah memperingatkan bahwa hujan dan banjir dapat memperburuk persoalan sanitasi serta meningkatkan risiko penyakit. Pada saat yang sama, sebagian besar warga masih hidup dalam kondisi pengungsian dan fasilitas kesehatan beroperasi dengan kapasitas terbatas.
Dalam kondisi tersebut, kelancaran masuknya bantuan menjadi faktor penting.
Perlengkapan yang tertahan berhari-hari atau berbulan-bulan tidak hanya berarti persoalan administrasi dan logistik. Bagi pasien yang menunggu pengobatan, alat bantu atau layanan rehabilitasi, keterlambatan tersebut dapat berarti semakin panjangnya waktu tanpa perawatan yang dibutuhkan.
WHO kini menyerukan akses kemanusiaan yang cepat, aman dan tanpa hambatan untuk menjaga layanan kesehatan yang masih tersisa sekaligus mencegah krisis kesehatan baru ketika musim dingin tiba.
Bagi Gaza, tantangannya bukan hanya bertahan menghadapi musim dingin, tetapi memastikan rumah sakit, tenaga kesehatan dan jaringan bantuan tetap mampu bekerja ketika kebutuhan masyarakat justru meningkat.















Komentar