JurnalPatroliNews | Riyadh – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) mengimbau sekitar 581 ribu warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Arab Saudi untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Pelindungan WNI terus memantau perkembangan keamanan di Arab Saudi. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan keselamatan warga Indonesia di tengah meningkatnya ketegangan dan terganggunya aktivitas penerbangan di negara tersebut.
Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Senin (12/10/2026), menyampaikan bahwa pemerintah terus berkoordinasi dengan perwakilan diplomatik Indonesia dan otoritas setempat untuk memantau dampak serangan tersebut.
Berdasarkan informasi yang disampaikan Kemlu, serangan pada Sabtu (10/10/2026) awalnya dilaporkan mengakibatkan 12 orang meninggal dunia dan 309 lainnya mengalami luka-luka. Para korban berasal dari sejumlah kewarganegaraan, termasuk Arab Saudi dan beberapa negara lainnya.
Rincian awal korban meninggal meliputi empat warga Arab Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.
Laporan Reuters yang terbit setelah pembaruan data tersebut menyebut jumlah korban meninggal dalam serangan Sabtu bertambah menjadi 13 orang. Serangan terpisah pada Minggu (11/10/2026) juga dilaporkan menewaskan satu orang dan melukai 11 orang lainnya.
Kemlu Verifikasi Kemungkinan WNI Terdampak
Hingga Minggu (11/10/2026), Kemlu RI menyatakan belum menerima laporan adanya WNI yang meninggal dunia akibat serangan tersebut. Meski demikian, kemungkinan adanya warga Indonesia di antara korban luka masih dalam proses verifikasi.
KBRI Riyadh terus menjalin komunikasi dengan otoritas Arab Saudi. Perwakilan Indonesia juga memantau sejumlah rumah sakit di Riyadh dan wilayah sekitarnya untuk memastikan apakah terdapat WNI yang membutuhkan penanganan atau bantuan.
Heni menegaskan bahwa keselamatan warga Indonesia menjadi perhatian pemerintah. Karena itu, KBRI Riyadh telah mengeluarkan imbauan agar WNI menghindari lokasi rawan, terutama kawasan Bandara Internasional King Khalid.
“KBRI Riyadh juga telah menerbitkan imbauan kepada WNI di Arab Saudi untuk meningkatkan kewaspadaan, menghindari lokasi rawan, khususnya kawasan Bandara Internasional King Khalid, membatasi perjalanan yang tidak mendesak, serta mematuhi arahan otoritas setempat,” kata Heni.
Imbauan tersebut juga ditujukan kepada WNI yang hendak melakukan perjalanan melalui Arab Saudi, baik untuk kepentingan pekerjaan, kunjungan keluarga, maupun ibadah.
Penumpang Diminta Cek Status Penerbangan
Serangan terhadap bandara turut mengganggu operasional penerbangan. Penghentian sementara kegiatan operasional dilaporkan dilakukan untuk pemeriksaan dan penilaian keselamatan setelah serangan terjadi.
Kemlu meminta WNI yang akan bepergian dari atau menuju Arab Saudi agar memastikan kembali status penerbangan kepada maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara.
Warga Indonesia juga diminta terus mengikuti informasi resmi dari otoritas Arab Saudi dan KBRI Riyadh. Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi perubahan jadwal penerbangan, penyesuaian operasional, maupun perkembangan situasi keamanan.
Pemerintah mengingatkan agar warga tidak mengambil risiko dengan mendatangi kawasan yang masuk dalam imbauan keamanan apabila perjalanan tidak mendesak. Kepatuhan terhadap arahan otoritas setempat menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan selama situasi belum sepenuhnya kondusif.
Sebanyak 581 Ribu WNI Berada di Arab Saudi
Berdasarkan data resmi Kementerian Luar Negeri Arab Saudi yang diterima KBRI Riyadh, jumlah WNI di negara tersebut mencapai sekitar 581 ribu orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 351.070 orang merupakan WNI residen atau pemegang izin tinggal (iqamah). Sementara itu, 229.930 lainnya tercatat sebagai pengunjung atau pemegang visa ziarah.
Besarnya jumlah warga Indonesia di Arab Saudi membuat koordinasi antara Kemlu RI, KBRI Riyadh, KJRI Jeddah, dan otoritas setempat menjadi sangat penting, terutama ketika terjadi keadaan darurat yang berpotensi berdampak terhadap keselamatan warga asing.
Kemlu memastikan KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah tetap beroperasi untuk memberikan pelayanan kekonsuleran serta pelindungan bagi WNI. Kedua perwakilan tersebut terus memantau perkembangan situasi dan menyiapkan langkah yang diperlukan sesuai kebutuhan di lapangan.
Nomor Hotline KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah
Bagi WNI yang membutuhkan bantuan atau ingin menyampaikan informasi terkait kondisi keselamatan di Arab Saudi, Kemlu menyediakan saluran komunikasi melalui perwakilan Indonesia berikut:
- Hotline KBRI Riyadh: +966 569173990
- Hotline KJRI Jeddah: +966 503609667
WNI di Arab Saudi diimbau menyimpan nomor tersebut dan menghubungi perwakilan Indonesia apabila membutuhkan bantuan kekonsuleran atau menghadapi keadaan darurat.
“Kementerian Luar Negeri bersama KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah akan terus memantau perkembangan situasi dan mengambil langkah-langkah pelindungan yang diperlukan guna memastikan keselamatan WNI di Arab Saudi,” pungkas Heni.
Pemerintah Indonesia menegaskan pemantauan akan terus dilakukan seiring perkembangan kondisi keamanan. Masyarakat Indonesia yang berada di Arab Saudi diharapkan tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, menghindari kawasan berisiko, dan selalu mengikuti informasi resmi dari perwakilan pemerintah Indonesia.















Komentar