JurnalPatroliNews – Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) mengumumkan pembentukan tim investigasi khusus yang terdiri dari ahli kimia, farmasi, dan kesehatan. Langkah ini diambil untuk mempercepat penelusuran kasus dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menjelaskan bahwa tim tersebut disiapkan sebagai langkah alternatif, mengingat hasil investigasi resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) biasanya memerlukan waktu cukup lama.
“Tim ini kami bentuk sebagai second opinion. Jadi sebelum ada hasil final dari BPOM, kami bisa menganalisis kemungkinan penyebab sakit anak-anak, apakah murni keracunan, reaksi alergi, atau faktor lainnya,” ujar Nanik dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (22/9).
Menurutnya, di kota besar, hasil investigasi BPOM rata-rata keluar dalam empat hingga tujuh hari. Namun di daerah, proses bisa lebih lama hingga dua pekan karena keterbatasan akses laboratorium. Selama menunggu, BGN menilai informasi sering simpang siur di masyarakat, sehingga investigasi paralel perlu dijalankan.
Tim ini, lanjut Nanik, akan bekerja meneliti seluruh rantai penyediaan makanan, mulai dari bahan baku, proses memasak, hingga sampel makanan yang rutin disimpan sebelum dibagikan ke siswa.
“Dengan begitu, langkah perbaikan bisa segera dilakukan, baik terkait sistem penyediaan gizi maupun penanganan medis bagi siswa yang terdampak,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala BGN Dadan Hindayana menekankan bahwa ada dua risiko besar dalam pelaksanaan MBG, yakni potensi penyalahgunaan anggaran dan masalah kesehatan penerima manfaat. Dari keduanya, ia menilai risiko kedua jauh lebih berbahaya.
“Kalau soal anggaran, kami sudah siapkan sistem agar penyalahgunaan bisa ditekan sekecil mungkin. Tapi kalau soal kesehatan, risikonya lebih kompleks karena rantainya panjang, mulai dari pasokan bahan, mitra penyedia, pengolahan, hingga distribusi,” kata Dadan.
BGN menegaskan bahwa investigasi ini sekaligus menjadi wujud keseriusan pemerintah dalam memberikan kepastian kepada publik serta mencegah isu liar berkembang terkait insiden keracunan dalam program MBG.














