HIPMI Jaya Amati Implikasi Kebijakan Tarif AS, Sektor Tekstil & Alas Kaki Jadi Fokus

JurnalPatroliNews – Jakarta – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia wilayah Jakarta (HIPMI Jaya) saat ini tengah melakukan pengamatan menyeluruh terhadap dampak kebijakan tarif impor yang diberlakukan oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Langkah ini diambil sebagai respons atas potensi gangguan yang bisa memengaruhi aktivitas bisnis para pelaku usaha di wilayah Ibu Kota.

Ketua Umum HIPMI Jaya, Ryan Haroen, menyatakan bahwa pihaknya masih dalam tahap analisis mendalam. “Kami sedang mencermati dengan serius bagaimana efek kebijakan tarif ini terhadap dunia usaha, khususnya di Jakarta. Evaluasi ini perlu dilakukan secara menyeluruh sebelum mengambil langkah lanjutan,” ujarnya saat diwawancarai pada Jumat, 25 Juli 2025, di Jakarta.

Ryan menyoroti bahwa tarif balasan sebesar 19 persen yang dikenakan terhadap produk asal Indonesia berisiko memberi dampak nyata, terutama pada pelaku usaha di sektor industri tekstil dan alas kaki—dua sektor yang banyak terpusat di wilayah DKI Jakarta.

“Yang paling rentan terdampak adalah sektor tekstil dan alas kaki. Tapi kami melihat ini bukan semata tantangan, melainkan juga peluang untuk belajar dan mencari solusi agar sistem perdagangan bisa berjalan adil dan saling menguntungkan,” jelasnya.

Lebih jauh, Ryan mengungkapkan optimismenya terhadap strategi diplomasi pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Ia meyakini bahwa pendekatan negosiasi bilateral dan diplomasi ekonomi yang sedang dijalankan bisa memberikan hasil positif dalam jangka panjang.

“Ini momen untuk introspeksi. Kita harus fokus pada peningkatan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar global. Tidak cukup hanya bertahan, kita harus siap bersaing secara sehat dan profesional,” tegas Ryan.

Sebagai bagian dari antisipasi, HIPMI Jaya telah menggelar berbagai forum diskusi terbatas yang mempertemukan pelaku usaha dari berbagai sektor. Diskusi ini bertujuan untuk menyusun skenario mitigasi terhadap dampak dari kebijakan tarif tersebut.

“Kami ingin pelaku usaha siap, apapun keputusan yang nanti berlaku. Kesiapsiagaan adalah kunci untuk tetap kompetitif di tengah gejolak perdagangan internasional,” pungkas Ryan.