JurnalPatroliNews – Jakarta – Industri pusat data (data center) terbukti menjadi salah satu motor penggerak utama perekonomian Singapura. Menurut laporan terbaru Asosiasi Pusat Data Asia-Pasifik (APDCA), sektor ini menyumbang nilai ekonomi miliaran dolar setiap tahunnya sekaligus menciptakan ribuan lapangan kerja dengan gaji di atas rata-rata nasional.
Studi yang ditugaskan Amazon Web Services (AWS) pada 2023 menemukan bahwa pusat data menambahkan lebih dari US$2 miliar per tahun ke perekonomian Singapura. Angka ini hampir menyamai setengah kontribusi sektor ritel dan bahkan lebih besar daripada sektor perhotelan.
Dampak terhadap pasar tenaga kerja juga luar biasa. Pusat data diperkirakan telah menciptakan hingga 1,6 juta lapangan kerja di Singapura, atau sekitar 70% dari total angkatan kerja negara tersebut. Dari jumlah itu, sekitar 25 ribu pekerjaan terkait langsung dengan operasional pusat data fisik—7 ribu di antaranya bekerja langsung di dalam fasilitas, sementara sisanya menyokong lewat rantai pasok.
Menariknya, pekerjaan yang ada di pusat data dinilai lebih berkualitas. Gaji rata-rata di sektor ini tercatat 35% lebih tinggi dari tingkat nasional, sementara produktivitas pekerja mencapai 2,6 kali lipat lebih besar.
Ke depan, prospek sektor ini semakin menjanjikan. APDCA memproyeksikan bahwa pada 2030, kontribusi ekonomi pusat data di Singapura bisa melonjak hampir sembilan kali lipat dibandingkan 2022, sementara penyerapan tenaga kerja diprediksi tumbuh 2,8 kali lipat.
Keterbatasan lahan justru membuat pusat data menjadi salah satu penggunaan tanah paling efisien di Singapura, dengan produktivitas lahan 85% lebih tinggi dari rata-rata nasional. Nilai tambah per hektar lahan dari pusat data tercatat US$59,9 juta, hampir dua kali lipat rata-rata penggunaan lahan negara tersebut.
Selain kontribusi ekonomi, pusat data juga memperkuat posisi Singapura sebagai hub digital Asia. Infrastruktur ini memungkinkan latensi rendah bagi layanan berbasis data, menekan biaya operasional bisnis, serta menarik lebih dari 7 ribu perusahaan multinasional untuk hadir di Singapura, termasuk 4.200 yang menjadikan negara itu sebagai kantor pusat regional.
Tak hanya Singapura, Malaysia juga mencatat pertumbuhan signifikan di sektor pusat data. Pendapatan industri diperkirakan mencapai RM3,6 miliar (S$1,1 miliar) pada 2025, naik dari RM2,1 miliar pada 2022. Dukungan pemerintah sangat besar, dengan 12 proyek besar senilai total US$20,9 miliar telah mendapatkan restu Otoritas Pengembangan Investasi Malaysia.
Nilai pasar pusat data Malaysia kini diperkirakan sekitar US$4 miliar pada 2024, dan berpotensi melesat menjadi US$13,6 miliar pada 2030, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan mencapai 22,4%.














