JurnalPatroliNews – Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan langkah strategis pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam memperluas kemitraan dagang global. Setelah sukses dengan kesepakatan IEU-CEPA bersama Uni Eropa dan penurunan tarif impor produk RI di Amerika Serikat dari 32% menjadi 19%, kini pemerintah siap tancap gas di kawasan lain.
Airlangga menyatakan bahwa Indonesia kini memprioritaskan akselerasi masuk dalam perjanjian CPTPP (Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership) dan penguatan RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership).
“Setelah IEU-CEPA, selanjutnya kami ingin segera mendorong keanggotaan di CPTPP dan memperkuat posisi di RCEP. Semua jalur kita kejar,” ujar Airlangga saat konferensi di Paris, Selasa (15/7), sesaat sebelum diumumkannya kesepakatan dagang antara Presiden Prabowo dengan Presiden AS Donald Trump.
CPTPP sendiri adalah perjanjian dagang lintas negara yang saat ini beranggotakan 12 negara, di antaranya Jepang, Kanada, Australia, Malaysia, dan Inggris. Sementara itu, RCEP menjadi forum ekonomi besar di Asia-Pasifik dengan partisipasi ASEAN ditambah mitra seperti China, Korea Selatan, Australia, Jepang, dan Selandia Baru.
Airlangga juga menegaskan kesiapan pemerintah untuk memperkuat sektor perdagangan lewat pembentukan sekretariat yang solid, sebagai pusat koordinasi antar perjanjian dagang.
Tak hanya itu, pemerintah menargetkan Indonesia bisa menjadi anggota penuh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam waktu tiga tahun ke depan. Airlangga optimistis karena saat ini RI sudah memenuhi 80% persyaratan awal untuk masuk OECD, sebuah organisasi yang beranggotakan 38 negara dan menguasai 80% arus perdagangan serta investasi dunia.
“Kami sangat serius ingin masuk OECD. Targetnya dalam dua atau tiga tahun lagi kita bisa bergabung,” tegasnya.
Airlangga menambahkan, diversifikasi pasar menjadi kunci, tidak hanya mengandalkan Amerika Serikat. Pemerintah pun fokus memperkuat ekspansi ke pasar non-Amerika sebagai bagian dari strategi perdagangan yang lebih seimbang.
Saat ini, Indonesia telah masuk dalam kelompok elite G20 dan baru saja bergabung secara resmi dengan BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan), yang mewakili sekitar 40% PDB dunia dan lebih dari separuh populasi global.














