JurnalPatroliNews – Jakarta – Perdebatan mengenai dampak kecerdasan buatan terhadap lapangan kerja kembali mencuat di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Namun, tidak semua pelaku industri sepakat bahwa AI akan memicu gelombang pengangguran besar-besaran.
Salah satu pendiri Anthropic, Jack Clark, secara terbuka membantah kekhawatiran tersebut. Ia menanggapi pernyataan CEO Anthropic, Dario Amodei, yang sebelumnya memperkirakan tingkat pengangguran bisa mencapai 20 persen dalam lima tahun ke depan akibat perkembangan AI.
Menurut Clark, prediksi tersebut bukan kepastian, melainkan sangat bergantung pada respons berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sektor industri, hingga masyarakat luas.
“Teknologi ini akan mengubah dunia secara besar-besaran, dan mustahil hal itu terjadi tanpa perubahan signifikan pada ekonomi,” ujar Clark seperti dikutip dari CNBC, Rabu (15/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa kehadiran AI memang akan membawa transformasi besar, baik dalam operasional perusahaan maupun dalam cara manusia bekerja dan berinteraksi. Meski demikian, perubahan tersebut tidak serta-merta berarti hilangnya pekerjaan secara luas.
Sebaliknya, Clark menilai AI akan mendorong pergeseran jenis pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan. Tantangan utama, menurutnya, terletak pada kesiapan tenaga kerja dalam beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Ia juga menekankan bahwa dampak AI tidak akan terjadi secara instan, sehingga masih tersedia waktu bagi masyarakat untuk menyesuaikan diri serta membangun sistem yang mampu meminimalkan gangguan di pasar tenaga kerja.
Lebih lanjut, Clark menyoroti pentingnya kemampuan berpikir lintas disiplin di era AI. Dengan teknologi yang mampu mengakses berbagai pengetahuan secara cepat, nilai tambah manusia justru terletak pada kemampuan merumuskan pertanyaan yang tepat serta mengintegrasikan berbagai wawasan.
Pandangan ini menambah perspektif baru dalam diskursus global mengenai masa depan pekerjaan, di tengah berkembangnya teknologi kecerdasan buatan yang semakin masif.














