Bukan Film! Pria 22 Tahun Warga Siangapura Diduga Otak Jaringan Curi Kripto US$245 Juta

JurnalPatroliNews | Jakarta — Kasus kejahatan siber yang menyeret Malone Lam, warga negara Singapura berusia 22 tahun, memasuki babak baru. Lam mengaku bersalah atas perannya sebagai pemimpin jaringan kejahatan internasional yang menggunakan rekayasa sosial untuk mencuri dan mencuci aset cryptocurrency senilai lebih dari US$245 juta.

Pengakuan bersalah itu disampaikan Lam pada 8 September 2026 di Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Washington, D.C. Ia mengaku bersalah atas satu dakwaan konspirasi berdasarkan Racketeer Influenced and Corrupt Organizations Act (RICO).

Departemen Kehakiman Amerika Serikat atau U.S. Department of Justice (DOJ) menyebut Lam sebagai ringleader dalam jaringan tersebut. Hakim Colleen Kollar-Kotelly menetapkan 8 Desember 2026 sebagai jadwal sidang status perkara berikutnya.

Perkembangan ini menjadi titik penting dalam perkara yang sebelumnya bermula dari dakwaan pencurian cryptocurrency lebih dari US$230 juta. Kasus tersebut kemudian berkembang menjadi penyelidikan jaringan kejahatan yang disebut beroperasi lintas negara dan menggunakan berbagai metode untuk menguras dompet cryptocurrency korban.

Jaringan Berawal dari Dunia Gim Daring

Menurut dokumen perkara, operasi kriminal tersebut mulai berjalan paling lambat pada Oktober 2023 dan berlangsung setidaknya hingga Mei 2025.

DOJ menyebut jaringan tersebut berkembang melalui hubungan yang terbentuk di berbagai platform gim daring. Dari hubungan tersebut kemudian terbentuk sebuah jaringan dengan pembagian tugas, mulai dari mengidentifikasi target, melakukan rekayasa sosial, mengelola hasil cryptocurrency curian hingga melakukan pencucian uang.

Jaringan tersebut melibatkan individu yang berada di sejumlah wilayah Amerika Serikat, termasuk California, Connecticut, New York dan Florida, serta sejumlah pihak di luar negeri.

Dalam struktur tersebut, Lam disebut memainkan peran penting. Ia mengorganisasi operasi rekayasa sosial, menentukan calon korban dan mengoordinasikan peran para anggota jaringan.

DOJ mencatat Lam menggunakan sejumlah nama samaran di dunia maya, antara lain “Anne Hathaway”, “$$$”, dan “King Greavy”.

Lebih dari 4.100 Bitcoin Dicuri dari Korban

Salah satu aksi yang menjadi bagian penting perkara tersebut terjadi pada 18 Agustus 2024.

Berdasarkan dakwaan yang diumumkan DOJ sebelumnya, Lam bersama Jeandiel Serrano dan anggota jaringan lainnya melakukan komunikasi dengan seorang korban di Washington, D.C.

Melalui komunikasi tersebut, para pelaku secara curang memperoleh sarana untuk memindahkan dan mencuri lebih dari 4.100 Bitcoin milik korban.

Pada saat pencurian terjadi, nilai aset tersebut mencapai lebih dari US$230 juta.

Perkara kemudian berkembang. Dalam superseding indictment yang diumumkan pada Mei 2025, DOJ menyebut jaringan tersebut terkait dengan pencurian cryptocurrency bernilai lebih dari US$263 juta dalam keseluruhan dakwaan terhadap jaringan.

Sementara dalam perkembangan terbaru, DOJ menyatakan Lam mengaku bersalah dalam perkara jaringan yang mencuri dan mencuci cryptocurrency senilai lebih dari US$245 juta.

Rekayasa Sosial Jadi Senjata Utama

Yang menarik dari kasus ini adalah cara jaringan tersebut beroperasi. Mereka tidak hanya mengandalkan teknik peretasan komputer.

DOJ menyebut social engineering atau rekayasa sosial menjadi salah satu metode utama. Para pelaku memanipulasi korban untuk mendapatkan informasi atau akses yang memungkinkan cryptocurrency dipindahkan ke tangan mereka.

Jaringan tersebut juga disebut memiliki anggota dengan fungsi khusus, antara lain peretas basis data, pengidentifikasi target, penelepon, pengelola pencucian uang dan pelaku pembobolan rumah.

Dalam sejumlah kasus, anggota jaringan bahkan diduga melakukan pembobolan rumah untuk mendapatkan informasi atau perangkat yang berkaitan dengan dompet cryptocurrency.

Artinya, operasi tersebut menggabungkan kejahatan siber, manipulasi manusia, pencurian fisik dan pencucian aset dalam satu jaringan.

Uang Kripto Mengalir ke Gaya Hidup Mewah

Jejak penggunaan cryptocurrency hasil kejahatan juga menjadi perhatian dalam perkara tersebut.

DOJ menyebut hasil cryptocurrency curian digunakan untuk membiayai berbagai kebutuhan mewah.

Pengeluaran di klub malam disebut mencapai US$500.000 dalam satu malam. Dana lainnya digunakan untuk membeli jam tangan dengan nilai sekitar US$100.000 hingga lebih dari US$500.000, pakaian dan aksesori mewah, serta menyewa rumah di Los Angeles, Hamptons dan Miami.

Jaringan tersebut juga menyewa jet pribadi, menggunakan pengamanan pribadi dan memiliki kendaraan eksotis dengan nilai sekitar US$100.000 hingga US$3,8 juta.

Dengan demikian, aliran cryptocurrency tidak berhenti setelah aset berhasil dicuri. Dana tersebut kemudian diduga dialihkan melalui berbagai transaksi dan digunakan untuk menopang gaya hidup mewah para anggota jaringan.

Perkara Bermula dari Dakwaan 2024

Nama Lam pertama kali mencuat secara resmi dalam perkara ini pada 19 September 2024.

Saat itu DOJ mengumumkan dakwaan terhadap Lam yang ketika itu berusia 20 tahun dan Jeandiel Serrano. Keduanya didakwa terkait konspirasi untuk mencuri dan mencuci cryptocurrency senilai lebih dari US$230 juta.

Dalam dakwaan tersebut, DOJ menyebut Lam dan Serrano menggunakan hasil cryptocurrency yang telah dicuci untuk membiayai perjalanan internasional, klub malam, mobil mewah, jam tangan, perhiasan, tas desainer serta rumah sewaan di Los Angeles dan Miami.

Perkara kemudian berkembang menjadi penyelidikan jaringan yang lebih luas.

Pada 15 Mei 2025, DOJ mengumumkan superseding indictment terhadap tambahan 12 terdakwa. Dakwaan tersebut menggambarkan sebuah jaringan dengan struktur dan pembagian tugas yang lebih luas, termasuk peretas basis data, pengidentifikasi target, penelepon, pencuci uang hingga pelaku pembobolan rumah.

Lam Ditangkap pada September 2025

Lam kemudian ditangkap aparat penegak hukum AS pada 18 September 2025 di rumah yang disewanya di Miami.

Penyidikan perkara ini melibatkan U.S. Attorney’s Office for the District of Columbia, FBI Washington Field Office, serta IRS-Criminal Investigation. Dukungan juga diberikan sejumlah kantor lapangan FBI dan kantor kejaksaan federal lainnya.

Kini Mengaku Bersalah

Perkembangan paling mutakhir terjadi pada 8 September 2026.

Lam mengaku bersalah atas satu dakwaan konspirasi RICO di hadapan Hakim Colleen Kollar-Kotelly. DOJ menyebut pengakuan tersebut berkaitan dengan perannya sebagai pemimpin jaringan kejahatan siber internasional yang menggunakan rekayasa sosial untuk mencuri dan mencuci cryptocurrency bernilai lebih dari US$245 juta.

Jaksa AS Jeanine Ferris Pirro menyatakan aparat penegak hukum akan terus mengejar jaringan kejahatan yang memanfaatkan teknologi untuk mencuri aset dari korban.

Dengan pengakuan bersalah tersebut, perkara Lam kini memasuki tahapan lanjutan. Sidang status berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 8 Desember 2026.

Kasus Malone Lam memberikan gambaran bahwa ancaman terhadap aset cryptocurrency tidak selalu datang melalui pembobolan sistem yang rumit.

Manipulasi korban, rekayasa sosial, pencurian informasi, pembobolan fisik dan pencucian aset dapat dirangkai menjadi satu operasi kejahatan lintas negara.

Dan ketika hasil kejahatan berubah menjadi rumah mewah, jet pribadi, jam tangan ratusan ribu dolar hingga kendaraan bernilai jutaan dolar, jejak kemewahan itu pada akhirnya ikut menjadi bagian dari cerita yang mengantarkan aparat membongkar jaringan tersebut.

Sumber utama: U.S. Department of Justice, U.S. Attorney’s Office for the District of Columbia, rilis resmi 8 September 2026, serta dokumen perkara terkait.

Komentar