JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah Indonesia menyatakan kesiapannya untuk memberikan dukungan kepada Malaysia, yang akan memegang posisi Ketua ASEAN pada 2025, dalam upaya meredakan konflik antara Thailand dan Kamboja yang kembali memanas di wilayah perbatasan kedua negara.
Hal tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Roy Soemirat, saat dimintai tanggapan terkait desakan agar Indonesia kembali memainkan peran sebagai penengah seperti yang pernah dilakukan pada tahun 2011. “Kami telah menyampaikan kesiapan untuk membantu Malaysia, mengingat pengalaman kami sebelumnya dalam menangani situasi serupa antara Thailand dan Kamboja pada 2011,” ujar Roy kepada wartawan, Minggu (27/7/2025).
Roy menyatakan bahwa Indonesia terus memantau secara intensif perkembangan konflik di perbatasan dan tetap meyakini bahwa kedua negara akan memilih jalan damai. Prinsip ini sejalan dengan nilai-nilai yang tertuang dalam Piagam ASEAN dan Traktat Persahabatan dan Kerja Sama (TAC).
Sebagai bentuk langkah konkret, Menteri Luar Negeri RI telah menjalin komunikasi awal dengan Menlu Malaysia. Tujuannya adalah membangun koordinasi awal antarnegara anggota ASEAN dalam merumuskan pendekatan bersama demi menciptakan penyelesaian damai atas ketegangan yang terjadi.
“Kami tengah mengupayakan strategi yang sesuai—baik melalui jalur bilateral maupun kerangka ASEAN—untuk menurunkan tensi yang sedang meningkat di wilayah perbatasan antara Kamboja dan Thailand,” tambah Roy.
Sebagai catatan, Indonesia memiliki pengalaman sebagai mediator dalam konflik serupa ketika memimpin ASEAN pada 2011. Kala itu, Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menjadi inisiator berbagai upaya diplomatik yang berhasil meredam konflik bersenjata kedua negara.
Ketegangan terbaru ini mencuat usai terjadi bentrok senjata di area perbatasan yang disengketakan. Laporan dari berbagai media mengabarkan adanya korban tewas dan warga sipil yang terpaksa meninggalkan rumah mereka demi menghindari konflik.
Kondisi semakin memanas setelah Thailand menutup akses perbatasan ke Kamboja, sedangkan pihak Kamboja memutuskan hubungan diplomatik dan menuding Thailand menggunakan kekuatan militer secara berlebihan.
Pemerintah kedua negara pun telah mengimbau warganya yang tinggal di dekat zona konflik untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang berharap penyelesaian damai dapat segera tercapai agar stabilitas regional tidak terganggu.














