JurnalPatroliNews – Mantan Wakapolri, Oegroseno, menyoroti berbagai kejanggalan dalam vonis 4,5 tahun penjara serta denda sebesar Rp750 juta yang dijatuhkan kepada mantan Menteri Perdagangan, Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @oegroseno.official, yang dikutip Sabtu, 19 Juli 2025, Oegroseno menyampaikan keprihatinannya atas keputusan majelis hakim.
“Innalillahi… Pak Tom Lembong dihukum 4 tahun 6 bulan, dengan alasan yang menurut saya aneh,” tulis Oegroseno di akun tersebut.
Ia menjelaskan, salah satu dasar vonis yang dinilai janggal adalah terkait pelaksanaan kebijakan impor gula melalui kerjasama antara BUMN dan pihak swasta. Menurutnya, skema semacam itu sebenarnya sah secara hukum dan menjadi kewenangan BUMN.
“Kalau seperti ini, artinya semua pejabat yang menugaskan BUMN lalu BUMN-nya menggandeng swasta, bisa berpotensi dipenjara. Padahal, kolaborasi seperti itu adalah hal yang wajar dan sah,” kata Oegroseno.
Ia menegaskan, dalam kasus ini Tom Lembong justru disalahkan atas keputusan yang bukan berada dalam lingkup kewenangannya. “Keputusan itu bukan ranah Pak Tom, tapi tetap saja beliau yang dihukum,” tambahnya.
Oegroseno juga menyoroti pertimbangan hakim yang menyebut adanya keuntungan bagi pihak swasta sebagai bentuk kerugian negara. Namun ironisnya, Tom Lembong sendiri tidak terbukti memiliki niat jahat ataupun menerima keuntungan pribadi seperti kickback dari kebijakan tersebut.
“Dalam kasus ini tidak ditemukan adanya mens rea atau niat jahat, juga tidak ada bukti Pak Tom menerima suap,” tegasnya.
Ia pun menduga bahwa vonis yang dijatuhkan kepada Tom Lembong sarat dengan unsur balas dendam politik. “Ini seperti ada muatan politik karena perbedaan pandangan dengan penguasa saat ini,” ucap Oegroseno.
Ia mengingatkan publik bahwa Tom Lembong pernah menjadi sosok yang sangat berjasa bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo di periode awal, sama seperti Anies Baswedan dan Hasto Kristiyanto. Namun, perbedaan sikap politik membuat mereka kemudian diserang.
“Pak Tom dulu sangat disayangi karena perannya besar di masa Jokowi, tapi begitu beda sikap politik, langsung dihajar,” tutupnya.











