Trump Ancam Kenakan Tarif Tambahan bagi Negara Pemasok Minyak ke Kuba

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman kebijakan dagang baru dengan menargetkan negara-negara yang memasok minyak ke Kuba. Ancaman tersebut dituangkan dalam sebuah perintah eksekutif, meski belum disertai rincian mengenai besaran tarif maupun daftar negara yang akan terdampak.

Dalam executive order yang ditandatangani pada Kamis waktu setempat, 29 Januari 2025, Trump menilai kebijakan dan tindakan Pemerintah Kuba sebagai ancaman luar biasa terhadap kepentingan Amerika Serikat.

Melalui kebijakan tersebut, AS membuka peluang pemberlakuan tarif tambahan terhadap barang impor dari negara asing yang secara langsung maupun tidak langsung menjual atau menyalurkan minyak ke Kuba.

“Dalam kerangka ini, bea masuk tambahan berbasis ad valorem dapat diterapkan terhadap produk dari negara yang memasok minyak ke Kuba, baik secara langsung maupun tidak langsung,” ujar Trump sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.

Namun hingga saat ini, Washington belum mengumumkan secara resmi negara mana saja yang akan dikenai sanksi tarif tersebut.

Pemerintah Kuba pun bereaksi keras. Presiden Miguel Díaz-Canel menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki legitimasi moral untuk memaksakan kebijakan sepihak terhadap negaranya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez menegaskan bahwa Kuba memiliki hak penuh untuk mengimpor bahan bakar dari negara mana pun tanpa harus tunduk pada tekanan atau paksaan dari AS.

Kebijakan keras pemerintahan Trump sebelumnya, termasuk penyitaan kapal tanker minyak Venezuela yang terkena sanksi, dinilai telah memperparah krisis energi di Kuba. Akibatnya, negara tersebut menghadapi pemadaman listrik bergilir dan kesulitan pasokan listrik bagi masyarakat.

Saat ini, sebagian besar kebutuhan minyak Kuba dipasok oleh Meksiko dan Venezuela. Namun, aliran minyak dari Venezuela terhenti setelah insiden penculikan mantan Presiden Nicolas Maduro oleh AS pada 3 Januari lalu.

Mengutip laporan The Financial Times, Meksiko menyumbang sekitar 44 persen impor minyak Kuba, sementara Venezuela sekitar 33 persen hingga bulan lalu. Sisanya berasal dari Rusia sekitar 10 persen dan sebagian kecil dari Aljazair.