JurnalPatroliNews – JAKARTA — Kunjungan pemimpin Korea Utara, Kim Il Sung, ke Indonesia pada April 1965 masih meninggalkan jejak kuat dalam sejarah hubungan kedua negara. Meski telah berlalu lebih dari enam dekade, momen tersebut tetap dikenang sebagai salah satu peristiwa diplomatik paling berkesan di era awal kemerdekaan Indonesia.
Dalam catatan sejarah, Kim Il Sung melakukan lawatan ke Indonesia pada 10 hingga 20 April 1965. Kedatangannya kala itu disambut meriah oleh pemerintah dan masyarakat. Presiden pertama RI, Sukarno, bahkan turun langsung mengatur agenda kunjungan dan memberikan sambutan istimewa bagi tamu negara tersebut.
Media massa nasional saat itu menempatkan sosok Kim Il Sung di halaman depan, sementara berbagai slogan penyambutan menghiasi jalan-jalan utama. Antusiasme publik juga terlihat dari ratusan ribu warga yang memadati jalur sepanjang sekitar 160 kilometer untuk menyambut kedatangannya.
Dalam rangkaian kunjungannya, Kim Il Sung turut diundang menghadiri sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), menjadikannya sebagai pemimpin asing pertama yang hadir dalam forum tersebut. Dalam kesempatan itu, Sukarno bahkan memuji Kim Il Sung sebagai sosok teladan yang layak dijadikan inspirasi.
Kedekatan kedua pemimpin juga tercermin dalam berbagai agenda kenegaraan, termasuk peringatan 10 tahun Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. Momentum tersebut semakin mempererat hubungan bilateral di tengah dinamika geopolitik global saat itu.
Pada 15 April 1965, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-53, Kim Il Sung dianugerahi gelar doktor kehormatan di bidang teknik. Namanya juga diabadikan sebagai nama bunga hasil persilangan baru, yang menjadi simbol persahabatan antara kedua negara.
Hubungan personal yang erat antara Sukarno dan Kim Il Sung turut tergambar dari berbagai momen kebersamaan. Dalam salah satu kesempatan, Sukarno bahkan berseloroh ingin “mematahkan roda pesawat” agar sang tamu dapat tinggal lebih lama di Indonesia—ungkapan yang kemudian dikenang sebagai simbol kedekatan dalam kunjungan bersejarah tersebut.














