Ekonomi Melambat, China Tetap Yakin Capai Pertumbuhan 5 Persen di 2025

JurnalPatroliNews – Jakarta – Perekonomian China sepanjang tahun 2025 menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Kendati demikian, pemerintah di Beijing tetap menyatakan keyakinannya bahwa target pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen masih dapat dicapai hingga akhir tahun.

Indikasi pelemahan tampak jelas pada kinerja ekonomi November 2025. Pada periode tersebut, baik sektor industri maupun konsumsi mencatat pertumbuhan terendah dalam lebih dari satu tahun terakhir.

Berdasarkan data terbaru Biro Statistik Nasional (NBS) China yang dirilis Senin, produksi industri hanya tumbuh 4,8 persen secara tahunan. Angka ini menurun dibandingkan Oktober yang mencapai 4,9 persen dan berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 5 persen. Capaian tersebut menjadi yang paling lemah sejak Agustus 2024, menandakan tekanan yang masih membayangi sektor manufaktur.

Kondisi serupa terlihat pada sisi konsumsi. Pertumbuhan penjualan ritel tercatat hanya 1,3 persen, turun tajam dari 2,9 persen pada bulan sebelumnya dan jauh meleset dari proyeksi pasar sebesar 2,8 persen. Ini merupakan laju terendah sejak Desember 2022, periode ketika China mulai melonggarkan kebijakan nol-Covid.

Melemahnya konsumsi domestik dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari berakhirnya efek subsidi program tukar tambah, belum pulihnya sektor properti, hingga ancaman deflasi yang masih menghantui ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Ekonom Senior Economist Intelligence Unit, Xu Tianchen, menilai kuatnya ekspor China masih menjadi penopang utama yang meredam tekanan dari dalam negeri. Menurutnya, performa ekspor yang solid mengurangi urgensi pemerintah untuk mendorong permintaan domestik secara agresif pada tahun ini, sementara dampak subsidi konsumsi mulai memudar.

Dengan kondisi tersebut, target pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen dinilai masih realistis, sehingga kebutuhan stimulus tambahan belum dianggap mendesak.

Tekanan ekonomi juga tercermin dari sektor properti dan otomotif. Harga rumah baru kembali mencatat penurunan pada November, sejalan dengan melemahnya investasi dan penjualan properti. Sementara itu, penjualan kendaraan secara tahunan anjlok 8,5 persen, penurunan terdalam dalam sepuluh bulan terakhir, yang sekaligus memupus harapan pemulihan konsumsi menjelang akhir tahun.

Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, Zhang Zhiwei, menilai perlambatan ekonomi terjadi secara merata. Ia menyoroti lemahnya penjualan ritel sebagai sinyal utama memburuknya aktivitas ekonomi pada November.

Di tingkat global, ketergantungan China terhadap ekspor mulai menghadapi tantangan baru. Sejumlah negara mitra dagang meningkatkan hambatan impor terhadap produk China, seiring melonjaknya surplus perdagangan yang mendekati 1 triliun dolar AS.

Meksiko, misalnya, telah menyetujui kenaikan tarif hingga 50 persen terhadap barang impor asal China mulai tahun depan. Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengancam penerapan tarif tambahan dan mendesak Beijing mengatasi ketidakseimbangan perdagangan global.

Meski menghadapi tekanan eksternal dan perlambatan permintaan domestik, pemerintah China tetap menunjukkan optimisme. Perdana Menteri Li Qiang menegaskan keyakinannya bahwa target pertumbuhan ekonomi tahun ini tetap dapat diraih. Ia juga menilai ekonomi China masih bergerak maju di tengah ketidakpastian global serta menyerukan penguatan tata kelola ekonomi dunia dan keterbukaan perdagangan internasional.

Sebagai gambaran, Bank Dunia pada Oktober lalu menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi China untuk 2025 menjadi 4,8 persen, mendekati target resmi pemerintah. Namun demikian, sejumlah ekonom menilai target tersebut tetap menantang, mengingat lemahnya konsumsi dalam negeri, krisis properti yang belum tuntas, serta meningkatnya resistensi global terhadap ekspor China.