JurnalPatroliNews – Jakarta – Kanselir Jerman Friedrich Merz menyampaikan keyakinannya bahwa tahun 2026 dapat menjadi momentum awal kebangkitan bagi negaranya, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan berat, baik dari dalam negeri maupun dinamika global.
Dalam pidato Tahun Baru pertamanya sebagai kanselir, Merz menegaskan bahwa konflik Rusia–Ukraina bukanlah persoalan yang jauh dari Jerman. Menurutnya, perang tersebut merupakan ancaman nyata bagi stabilitas seluruh kawasan Eropa.
Merz menilai agresi Rusia sebagai bagian dari strategi yang menyasar Eropa secara keseluruhan. Ia mengungkapkan bahwa Jerman kini kerap menghadapi aksi sabotase, kegiatan spionase, hingga serangan siber yang terjadi hampir setiap hari. Pernyataan itu disampaikannya seperti dikutip dari DW, Rabu, 31 Desember 2025.
Di sektor pertahanan, pemerintah Jerman berencana memperkuat kemampuan militer dengan meningkatkan anggaran serta kesiapan sistem keamanan nasional. Merz juga menyinggung dinamika baru dalam hubungan dengan Amerika Serikat, seraya menekankan pentingnya Eropa bersikap lebih mandiri dalam melindungi kepentingannya sendiri.
Pada sisi ekonomi, Merz secara terbuka mengakui tekanan yang sedang dihadapi Jerman, mulai dari tingginya biaya produksi, lambannya reformasi struktural, hingga ketatnya persaingan global. Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah akan berupaya memangkas kerumitan birokrasi, menekan harga energi, serta memperkuat daya saing sektor industri.
Menutup pidatonya, Merz menyampaikan pesan optimisme kepada publik. Ia menegaskan bahwa meskipun rintangan yang dihadapi tidak ringan, Jerman memiliki kapasitas dan sumber daya untuk bangkit. “Kita tidak terbelenggu oleh keadaan,” ujarnya, menegaskan bahwa masa depan Jerman berada di tangan rakyat dan pemerintahnya sendiri.














