JurnalPatroliNews – Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipandang bukan sekadar kebijakan bantuan sosial, melainkan penanda perubahan fundamental arah pembangunan ekonomi Indonesia.
Kebijakan ini dinilai mencerminkan pergeseran fokus dari pembangunan yang bertumpu pada infrastruktur dan pertumbuhan semata, menuju strategi ekonomi yang menempatkan kualitas manusia sebagai pusat utama.
Pendiri Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Prof. Dr. H. Didin S. Damanhuri, menilai MBG sebagai langkah penting untuk memutus mata rantai ketimpangan sosial yang selama ini menghambat kemajuan nasional.
Menurut Prof. Didin, jika program MBG dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan, maka cara pandang ekonomi di Indonesia akan berubah secara signifikan. Selama ini, pembangunan kerap diidentikkan dengan dorongan pertumbuhan setinggi-tingginya melalui proyek infrastruktur berskala besar. Namun MBG justru menyasar perbaikan kualitas gizi dan pendidikan masyarakat secara luas, terutama kelompok rentan.
Ia menjelaskan bahwa program tersebut menargetkan sekitar separuh lapisan masyarakat terbawah. Dengan pengelolaan yang tepat, intervensi ini diyakini mampu memperkecil kesenjangan sosial sekaligus menimbulkan efek ekonomi makro yang luas dan berjangka panjang.
Dampak nyata MBG mulai terlihat di lingkungan sekolah. Di SMAN 1 Taraju, Tasikmalaya, misalnya, terjadi perubahan pola konsumsi siswa yang kini lebih memilih makanan bergizi dibanding jajanan rendah nutrisi. Salah satu siswa, Alfi Alfian, mengaku kehadiran MBG sangat membantu kebutuhan hariannya.
“Dulu paling cuma jajan cireng. Sekarang ada makanan bergizi di sekolah, orang tua juga merasa terbantu,” ujarnya.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Nurhayati, menambahkan bahwa program MBG turut memengaruhi perilaku ekonomi siswa. Pengeluaran harian untuk jajan berkurang signifikan, kedisiplinan meningkat, dan tingkat kehadiran siswa di sekolah menunjukkan tren positif.
Menurutnya, asupan gizi yang lebih baik berpengaruh langsung terhadap kesehatan dan semangat belajar siswa. Ia berharap perbaikan nutrisi ini dapat memberikan dampak jangka panjang bagi kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.
Selain berdampak pada siswa, MBG juga memberikan tambahan penghasilan bagi guru honorer yang terlibat dalam distribusi makanan. Program ini bahkan tetap berjalan saat masa libur sekolah, menunjukkan keseriusan negara dalam menjamin pemenuhan gizi anak-anak sekaligus menekan risiko stunting.
Di tingkat daerah, kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) turut menggerakkan roda ekonomi lokal. Selain membuka lapangan kerja, mitra SPPG menyerap hasil produksi petani dan peternak setempat, sehingga menciptakan rantai ekonomi yang saling menguntungkan.
Mitra SPPG Cibuntu, Tino Rirantino, menyebut keberadaan SPPG dirasakan manfaatnya tidak hanya oleh penerima program, tetapi juga oleh pelaku usaha lokal, pasar, serta sektor pertanian dan peternakan.
Meski sempat menghadapi kendala teknis pada fase awal pelaksanaan, Badan Gizi Nasional dinilai berhasil melakukan konsolidasi dan perbaikan sistem. Prof. Didin pun optimistis MBG dapat menjadi pijakan kuat bagi Indonesia untuk bertransformasi menuju ekonomi berbasis pengetahuan.
Ia menegaskan bahwa program ini membuka peluang partisipasi seluruh lapisan masyarakat dalam pembangunan jangka panjang. Menurutnya, dampak MBG akan sangat besar dan menentukan arah masa depan ekonomi Indonesia.














