JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan kekhawatirannya akan kemungkinan kembali dimakzulkan apabila Partai Republik gagal menguasai Kongres dalam pemilihan paruh waktu yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang. Kekhawatiran ini muncul di tengah menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap kondisi perekonomian Amerika Serikat.
Dalam forum pertemuan kebijakan Partai Republik di Dewan Perwakilan Rakyat AS pada Selasa, 6 Januari 2026, Trump secara terbuka mengaitkan hasil pemilu sela dengan keberlangsungan posisi politiknya sebagai presiden. Ia menilai kekalahan partainya di Kongres akan membuka jalan bagi oposisi untuk kembali menggulirkan upaya pemakzulan.
“Kita wajib memenangkan pemilu paruh waktu. Jika gagal, mereka pasti akan mencari-cari alasan untuk memakzulkan saya lagi,” ujar Trump di hadapan para legislator Partai Republik.
Pemilu sela November nanti akan memperebutkan seluruh 435 kursi DPR serta sepertiga kursi Senat. Hasil pemilihan tersebut akan menentukan apakah Partai Republik mampu mempertahankan kendali legislatif guna mendukung agenda pemerintahan Trump pada sisa dua tahun masa jabatan keduanya.
Dalam sejarah politik Amerika, pemilu paruh waktu kerap menjadi momentum kebangkitan partai oposisi, yang sering kali meraih keuntungan signifikan dibanding partai penguasa.
Kekhawatiran Trump bukan tanpa alasan. Sebelumnya, DPR AS telah dua kali meloloskan proses pemakzulan terhadap dirinya, masing-masing pada tahun 2019 dan 2021.
Sementara itu, survei NBC News yang dirilis pada Oktober menunjukkan peta politik yang belum berpihak pada Partai Republik. Sekitar 50 persen pemilih terdaftar menginginkan Kongres berada di bawah kendali Partai Demokrat, sementara hanya 42 persen yang mendukung Partai Republik.
Dengan DPR memiliki kewenangan penuh untuk memulai proses pemakzulan, hasil pemilu sela mendatang dipandang krusial bagi kelangsungan pemerintahan Trump sekaligus stabilitas politik Amerika Serikat ke depan.














