“Perkembangan ini tentu sangat menggembirakan, dan kita harapkan jumlah pelapor SPT hingga akhir Maret 2023 ini terus meningkat. Sangat terlihat, WP kita sudah sangat dewasa, memiliki kepatuhan yang kian baik,” ujar Said.
Â
Tetap Waspada
Di sisi lain, sejumlah indikator makro ekonomi Indonesia sejauh ini masih menunjukkan angka angka yang positif. Indeks Keyakinan Konsumen pada akhir Februari 2022 di level 122,4, dan Indeks Purchasing Manufacture Indonesia (PMI) di level 51,2 dan mengalami ekspansi lebih dari 18 bulan.
Hal ini mengindikasikan berlanjutnya optimisme masyarakat atas situasi ekonomi. Inflasi Indonesia pun dalam posisi moderat pada posisi 5,47% (yoy), meski sedikit naik dari Januari 2023 yang berada pada level 5,28%.
“Namun karena akan memasuki masa Ramadhan dan Lebaran 2023, seperti kebiasaan sebelumnya, kita perlu waspada atas inflasi pada sejumlah barang dan jasa, seperti; daging ayam ras, cabai,, angkutan darat. laut, udara, gula pasir, minyak goreng, dan emas perhiasan,” kata Said Meski inflasi masih harus diwaspadai, momentum Ramadhan dan mudik jelang lebaran bisa menggerakkan sektor riil lebih besar, terutama ritel.
Tingkat kunjungan wisatawan dalam negeri, yang kita harapkan tingkat hunian terhadap hotel dan kunjungan ke restoran juga meningkat.
“Kita juga harapkan momentum terhadap permintaan barang dan jasa terus meningkat sejalan dengan tahapan pelaksanaan pemilu 2024. Sektor periklanan, tekstil, jasa angkutan, termasuk hotel dan restoran tetap terjaga karena potensi mobilitas masyarakat yang kian meningkat,” pungkasnya.
Pada sektor keuangan sejumlah data menunjukkan kurs rupiah sedikit mengalami sedikit tekanan, meskipun secara umum stabil. Merujuk pada Jisdor, kurs rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat pada 17 Maret 2023 di level Rp 15.364 dibandingkan 17 Februari 2023 yang berada pada posisi Rp 15.199.
Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) stabil di posisi 6.565,7 per 17 Maret 2023.
Terbaru, Amerika Serikat diguncang gagalnya Silicon Valley Bank (SVB). Otoritas perbankan perlu terus melakukan monitoring perkembangan ke depan.
Said mengatakan kesehatan perbankan Indonesia sangat baik, sehingga kecil kemungkinan kegagalan SVB merembet jauh ke dalam perbankan nasional.
Kemungkinan besar sentimen negatif terjadi pada saham saham bank digital, maupun saham saham perusahaan startup yang nangkring pada Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Saatnya menatap ke depan tetap optimis. Sejumlah agenda kerja masih menanti. Hendaknya akhiri polemik yang tidak produktif hanya menjual sensasi, tetap memelihara kepercayaan terhadap kawan kawan pemungut pajak, sebaliknya para pemungut pajak juga harus menunjukkan sikap dan gaya hidup yang memang layak untuk terus dipercaya,” tuturnya.













