Kasus Guru Tampar Siswa di Subang, Dedi Mulyadi Datangi Sekolah

JurnalPatroliNews – Jakarta -Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turun langsung meninjau SMP Negeri 2 Jalancagak, Kabupaten Subang, usai viral kasus dugaan kekerasan guru terhadap siswa pada Jumat (7/11/2025).

Kedatangan Dedi Mulyadi atau Kang Dedi ke sekolah berlangsung sekitar pukul 07.30 WIB. Mengenakan pakaian serbaputih, ia menyapa para guru dan siswa sebelum meninjau sejumlah ruang kelas yang tampak mengalami kerusakan.

Kunjungan dilanjutkan ke kelas tempat ZR (16), siswa yang menjadi korban dugaan kekerasan, menempuh pendidikan. ZR sebelumnya viral di media sosial melalui unggahan akun Instagram @mangdans_, milik ayahnya, Deni Rukmana, yang memprotes tindakan guru IPS bernama Rana Saputra karena diduga menampar anaknya usai upacara bendera pada Senin (3/11/2025).

Dedi menegaskan bahwa pendisiplinan terhadap siswa tidak boleh dilakukan dengan kekerasan fisik, apa pun alasannya.

“Sanksi terhadap siswa jangan dengan kekerasan. Sekolah harus tegas, tetapi jangan sampai memukul. Risikonya terlalu tinggi,” ujar Dedi Mulyadi kepada wartawan di SMPN 2 Jalancagak, Subang.

Ia mencontohkan kasus serupa di daerah lain, di mana seorang guru madrasah dipidana lima bulan karena memukul siswa. Karena itu, ia mendorong agar hukuman diberikan dalam bentuk edukatif dan produktif, bukan kekerasan.

“Sanksinya gampang saja, bersihkan sampah, babat rumput, cat ruang kelas, bantu guru menulis. Kalau lemah matematika, latih setiap hari sampai bisa. Itu mendidik, bukan menyakiti,” jelasnya.

Kang Dedi juga menyoroti perlunya pendekatan rehabilitatif bagi siswa yang berperilaku menyimpang, seperti merokok. “Anak-anak yang merokok harus direhab, bukan digaplok. Semakin digaplok, makin nambah merokoknya,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa dana bagi hasil pajak rokok di setiap kabupaten/kota bisa dimanfaatkan untuk membiayai program rehabilitasi siswa tersebut.

Sementara itu, Guru IPS Rana Saputra yang menjadi sorotan publik mengaku menyesal dan menyebut insiden itu sebagai pelajaran berharga.

“Di sini bukan soal siapa yang salah atau menang, tapi bagaimana muruah guru tetap dihargai. Saya akui memukul siswa, tapi niat saya bukan untuk mencederai,” ujarnya.

Rana juga berjanji akan mengubah metode pemberian sanksi agar lebih mendidik sesuai arahan gubernur. “Ke depan, sanksi cukup dengan kerja sosial, bersihkan toilet, betulkan bangku, atau cat kelas. Yang penting anaknya disiplin tanpa harus disakiti,” tambahnya.