Isu Satu Kompi TNI Curi Lembu Dibantah, Dandim: Kalau Terbukti Akan Kami Tindak

JurnalPatroliNews – Jakarta – Komandan Kodim (Dandim) 0209/Labuhanbatu, Letkol Kav Hanung Kaptiaji, menegaskan bahwa tidak ada keterlibatan anggota TNI dalam dugaan pencurian 16 ekor lembu yang sempat viral di media sosial.

Ia menyebut narasi yang beredar mengenai satu kompi TNI melakukan pencurian merupakan informasi yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Klarifikasi tersebut disampaikan menyusul beredarnya sebuah video yang memperlihatkan sejumlah pria dengan narasi bahwa mereka merupakan anggota TNI yang diduga mencuri ternak milik warga di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara.

“Tidak ada keterlibatan TNI dalam rangka mencuri ataupun mengambil lembu sebagaimana dinarasikan dalam video tersebut. Informasi yang menyebut satu kompi TNI melakukan pencurian jelas tidak benar,” ujar Hanung, Senin (29/6/2026).

Menurut Hanung, video tersebut direkam pada Mei 2026 saat terjadi perselisihan antarkelompok warga di Desa Sei Siarti, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu. Konflik yang dipicu dugaan pencurian ternak itu sempat memanas hingga melibatkan penggunaan senjata tajam.

Ia membenarkan terdapat anggota TNI di sekitar lokasi kejadian. Namun, keberadaan mereka bukan untuk melakukan pencurian, melainkan telah berada di kawasan tersebut jauh sebelum konflik terjadi.

Sebagian personel, lanjut Hanung, berada di lokasi karena membantu pengamanan atas permintaan pihak tertentu, sementara lainnya memiliki kepentingan pribadi di wilayah tersebut, termasuk berkaitan dengan lahan.

“Mereka berada di sana bukan dalam rangka melakukan pencurian. Informasi yang kami terima, ada personel yang diminta membantu pengamanan dan ada pula yang memang memiliki lahan di kawasan itu,” jelasnya.

Hanung juga membantah klaim bahwa jumlah anggota TNI yang berada di lokasi mencapai satu kompi. Berdasarkan informasi awal yang diterimanya, hanya terdapat dua orang yang diduga melakukan pengamanan di luar penugasan resmi Kodim.

“Saat ini kami masih melakukan pengecekan terhadap dua orang yang disebut berada di lokasi. Sedangkan narasi yang menyebut ada satu kompi TNI datang secara berbondong-bondong sama sekali tidak sesuai fakta,” tegasnya.

Senapan yang Ditemukan Disebut Bukan Milik TNI

Menanggapi isu mengenai keberadaan senjata api di dalam sebuah truk, Hanung menjelaskan bahwa benda yang dimaksud bukan merupakan senjata milik TNI, melainkan senapan bius yang biasa digunakan untuk menangani hewan ternak.

“Setelah kami telusuri di lapangan, yang dimaksud itu adalah senapan bius untuk sapi. Senjata seperti itu bukan inventaris TNI. Jadi banyak narasi yang beredar tidak sesuai kenyataan,” katanya.

Polisi Sempat Terhalang Masuk Lokasi

Hanung mengungkapkan aparat kepolisian sebenarnya telah lebih dahulu mendatangi lokasi setelah menerima laporan adanya perselisihan. Namun upaya menuju tempat kejadian perkara terkendala karena sejumlah warga menghadang petugas menggunakan senjata tajam.

“Informasinya polisi sempat mencoba masuk untuk mencari lokasi kejadian dan keberadaan ternak, tetapi tidak dapat melanjutkan karena diadang oleh beberapa warga yang membawa parang,” ujarnya.

Melihat situasi yang berkembang, Babinsa bersama Bhabinkamtibmas kemudian melakukan pemantauan guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan yang lebih besar.

Kodim Siap Tindak Jika Ada Oknum Terbukti Bersalah

Meski membantah keterlibatan institusinya, Hanung menegaskan Kodim tidak akan memberikan toleransi apabila di kemudian hari ditemukan prajurit TNI yang benar-benar terlibat dalam tindak pidana tersebut.

Ia memastikan akan menindak tegas setiap personel yang terbukti melanggar hukum sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kalau memang nanti ada bukti atau ada pihak yang bisa menunjukkan identitas anggota TNI yang terlibat, tentu akan kami proses. Sampai hari ini belum ada laporan ataupun keterangan yang mengarah kepada personel TNI tertentu,” tegasnya.

Hanung menambahkan, perkara dugaan pencurian lembu tersebut saat ini telah bergulir di pengadilan. Ia memastikan Kodim akan mengikuti seluruh perkembangan proses hukum, termasuk apabila dalam persidangan muncul fakta baru yang mengaitkan anggota TNI.

“Sampai saat ini baik dari laporan kepolisian maupun proses penyidikan tidak ada yang menyebut keterlibatan prajurit TNI. Kami menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan siap menindaklanjuti apabila ditemukan bukti baru,” pungkasnya.

Komentar