JurnalPatroliNews – Cilegon – Di tengah riuhnya puluhan ribu pemudik motor dan mobil yang memadati Pelabuhan Ciwandan, sosok Veri Sanovri (50) tampak mencolok. Pria asal Tangerang Selatan ini memilih cara tak biasa untuk pulang ke kampung halamannya di Palembang: mengayuh sepeda Surly hitam kesayangannya.
Berangkat dari kediamannya pada Selasa (17/3/2026) pagi pukul 09.00 WIB, Veri tiba di areal buffer zone Pelabuhan Ciwandan sekitar pukul 22.00 WIB. Jarak puluhan kilometer ia tempuh dengan santai, mengandalkan kekuatan fisik dan hobi yang sudah mendarah daging.
“Hampir tiap tahun saya mudik pakai sepeda sejak 2018. Hanya tahun 2025 kemarin saja yang absen karena sepedanya tertinggal di Palembang,” ujar Veri saat ditemui di sela antrean kapal feri, Selasa malam.
Meski sempat mendapat protes dari sang istri karena faktor keamanan, Veri berhasil meyakinkan keluarganya bahwa perjalanannya akan aman. Baginya, mudik dengan sepeda adalah kombinasi antara olahraga dan liburan. Apalagi tahun ini, anak dan istrinya tidak ikut mudik ke Sumatera, sehingga ia merasa lebih bebas menentukan moda transportasinya.
Persiapan Veri tergolong minimalis namun fungsional. Karena sudah terbiasa gowes harian, ia hanya membekali diri dengan tenda lipat. Tenda ini menjadi “hotel portabel” miliknya jika ia tak menemukan pos pengamanan atau tempat istirahat yang layak di jalur lintas Sumatera kelak.
Veri menargetkan tiba di Palembang pada Jumat (20/3), tepat saat malam takbiran versi kalender pemerintah. Untuk menjaga keselamatan, ia berkomitmen tidak melakukan perjalanan di malam hari.
“Saya tidak jalan malam, ngeri juga karena jalur Sumatera masih banyak yang gelap. Jadi lebih baik istirahat saat malam,” tambahnya.
Bagi Veri, perjalanan ratusan kilometer ini bukan beban, melainkan kebahagiaan. Sepanjang jalan, ia mengaku sering bertemu orang-orang baik yang menawarkan makan dan minum, sebuah pengalaman solidaritas di jalan raya yang tidak ia dapatkan jika menggunakan kendaraan mesin.














