JurnalPatroliNews -Tangerang – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang, Banten, terus melakukan berbagai upaya mitigasi bencana dengan meningkatkan kapasitas daya tampung air di sejumlah saluran pembuang. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi pencegahan banjir di kawasan permukiman warga, khususnya menjelang puncak musim hujan.
Peningkatan kapasitas saluran air tersebut dilakukan melalui program normalisasi yang menyasar berbagai titik rawan genangan dan banjir di wilayah Kota Tangerang. Normalisasi bertujuan mengembalikan fungsi saluran agar aliran air dapat berjalan optimal dan tidak terhambat saat curah hujan tinggi.
Kepala Bidang Operasional dan Pemeliharaan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang, Iwan Nursyamsu, mengatakan normalisasi saluran merupakan langkah strategis untuk mengantisipasi penyumbatan yang berpotensi menimbulkan genangan hingga banjir.
“Normalisasi menjadi langkah strategis untuk mengantisipasi penyumbatan saluran yang bisa menimbulkan genangan sampai banjir,” kata Iwan di Tangerang, dikutip dari Antara, Minggu (14/12/2025).
Ia menjelaskan, kegiatan normalisasi difokuskan pada pengangkatan sedimentasi serta material lain yang selama ini menghambat kelancaran aliran air.
Endapan lumpur dan sampah disebut menjadi salah satu faktor utama berkurangnya kapasitas saluran pembuang di sejumlah wilayah.
Selain penanganan teknis, Pemkot Tangerang juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif menjaga kebersihan lingkungan, terutama dengan tidak membuang sampah sembarangan ke saluran air. Keterlibatan warga dinilai penting agar fungsi saluran dapat terjaga secara berkelanjutan.
“Tidak hanya penanganan teknis di lapangan, kami juga bekerja sama dengan perangkat kewilayahan untuk mengajak masyarakat bersama-sama menjaga kondisi saluran air agar dapat berfungsi optimal, sehingga lingkungan sekitar aman dari ancaman banjir,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Tangerang, Sachrudin, mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Penetapan status tersebut merespons peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi curah hujan pada akhir 2025 hingga awal 2026 berada di atas normal akibat anomali iklim global.
Menurut Sachrudin, sepanjang tahun ini tren kejadian banjir, genangan, serta angin kencang di Kota Tangerang menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.
Kondisi tersebut mendorong Pemkot Tangerang mengambil langkah antisipatif melalui peningkatan kesiapsiagaan dan percepatan program mitigasi.
Ia menegaskan, Pemkot Tangerang kini mengedepankan paradigma baru dalam penanganan kebencanaan, yakni bergerak lebih awal sebelum bencana terjadi.
“Sederhana saja, ketika kita siap, biasanya musibah memilih jalan lain. Namun, kalau kita lengah, genangan kecil pun bisa berubah menjadi bencana,” ujarnya.
Melalui normalisasi saluran pembuang, peningkatan kesiapsiagaan, serta keterlibatan aktif masyarakat, Pemkot Tangerang berharap risiko banjir dan dampak bencana hidrometeorologi dapat ditekan, sehingga keamanan dan kenyamanan warga tetap terjaga selama musim hujan.














