Budi Mulyawan: Jakarta Butuh Sekda dari Internal Pemprov yang Multi Talenta

Menurutnya, Gebyar Baksos Milenial 2025 akan diisi dengan berbagai kegiatan mulai dari bakti sosial, pelayanan kesehatan gratis, diskusi publik tentang pemerintahan modern, hingga kampanye digital antikorupsi. Semua kegiatan diarahkan untuk menanamkan nilai gotong royong, empati, dan kepedulian sosial di kalangan anak muda.

“Baksos ini tidak boleh berhenti di seremoni. Kami ingin mendorong semangat kolaborasi antara masyarakat sipil, dunia pendidikan, dan birokrasi. Karena perubahan besar dimulai dari kesadaran kolektif,” tegas Taufik.

Melalui acara ini, Jaya Center Foundation berharap kaum muda dapat berperan aktif dalam mengawal kebijakan publik dan menjadi agen perubahan dalam reformasi birokrasi.

Generasi milenial dan Gen Z diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari proses pembaharuan di tubuh pemerintahan daerah.

“Jakarta harus menjadi laboratorium birokrasi modern, tempat di mana setiap ASN dan warga punya ruang untuk berinovasi, mengawasi, dan berkontribusi,” ujar Budi menutup pernyataannya.

Dengan semangat Sumpah Pemuda ke-97 dan HUT TNI ke-80, Gebyar Baksos Milenial Jakarta 2025 menjadi simbol bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada besar kecilnya anggaran, tetapi pada integritas, efisiensi, dan keberpihakan kepada rakyat.

Reformasi birokrasi berbasis SDM yang kuat, ditopang pengelolaan anggaran yang transparan, menjadi fondasi utama bagi Pemprov Jakarta untuk tetap produktif di tengah keterbatasan fiskal.

Dan seperti ditekankan Jaya Center Foundation, birokrasi yang bersih dan efektif adalah syarat utama menuju Jakarta yang tangguh, adaptif, dan berkeadilan sosial.**