JurnalPatroliNews – Jakarta – Banjir dan longsor besar yang melanda wilayah Sumatera menjadi peringatan serius bagi provinsi lain di Indonesia, terutama kawasan yang kini mulai berada dalam pengaruh bibit siklon tropis baru.
Peneliti senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS Surabaya, Dr. Amien Widodo, menegaskan bahwa peningkatan kapasitas masyarakat menjadi keharusan dalam menghadapi ancaman hidrometeorologis.
Dr. Amien menjelaskan bahwa curah hujan ekstrem yang dipicu Siklon Senyar bersinggungan dengan kondisi topografi Indonesia yang rawan dan kerusakan hutan yang terjadi selama puluhan tahun.
Situasi tersebut memicu ketidakstabilan tanah, sehingga banjir bandang membawa material lumpur, bebatuan, hingga kayu besar dengan daya rusak tinggi.
Tragedi di Sumatera kini menjadi dasar bagi daerah lain untuk bergerak cepat. Peringatan dini BMKG mengenai kemunculan bibit siklon tropis di selatan Jawa harus ditanggapi dengan langkah mitigasi nyata. Bibit siklon ini diperkirakan dapat memengaruhi cuaca di Jawa, Bali, NTT, hingga Timika, Papua.
Data Puslit MKPI ITS bersama BPBD Jawa Timur menunjukkan bahwa kerentanan masih tinggi. BPBD mencatat setidaknya 14 potensi bencana yang tersebar di lebih dari 30 kabupaten/kota seperti Pacitan, Ponorogo, Malang, dan Banyuwangi. Wilayah tersebut termasuk zona rawan banjir bandang dan longsor yang dapat diperparah oleh aktivitas siklon.
Menurut Dr. Amien, pengurangan risiko bencana tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Kesiapsiagaan masyarakat justru menjadi faktor penentu keselamatan.
Ia menekankan bahwa jika warga dibekali pemahaman dan perlengkapan yang tepat, mereka dapat menyelamatkan diri tanpa harus menunggu bantuan dari luar.
Ia menyerukan kolaborasi antara pemerintah, komunitas lokal, hingga pihak swasta untuk membangun ketangguhan melalui edukasi, pelatihan berkala, serta kerja sama lintas sektor sebagai kesiapan menghadapi ancaman siklon tropis maupun bencana lain yang mungkin terjadi ke depan.














