Tak Ada Batas Usia, Kemnaker Hadirkan Pelatihan Tata Boga bagi Lansia Produktif di Padang

JurnalPatroliNews – Padang — Kementerian Ketenagakerjaan melalui Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Padang menginisiasi terobosan baru dengan menghadirkan pelatihan vokasi ramah inklusi.

Program ini mencakup pelatihan pengelolaan kafe bagi penyandang disabilitas serta pelatihan tata boga bagi kelompok lanjut usia (lansia) produktif guna memperluas akses kompetensi di semua lapisan masyarakat.

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, meninjau langsung jalannya pelatihan tersebut pada Kamis kemarin. Dalam kunjungannya, Menaker menegaskan bahwa pelatihan vokasi harus menjadi ruang yang aksesibel bagi mereka yang selama ini memiliki keterbatasan akses menuju pasar kerja maupun dunia wirausaha.

Salah satu fokus peninjauan adalah pelatihan pengelolaan kafe yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas tunarungu.

Hasil kolaborasi antara BPVP Padang dengan Yayasan Rumah Inklusi Padang ini melibatkan puluhan peserta yang dilatih keterampilan spesifik, mulai dari teknik barista, manajemen kasir digital, hingga pelayanan pelanggan atau pramusaji.

Menaker memberikan apresiasi tinggi terhadap kurikulum yang telah diadaptasi serta dukungan instruktur yang mampu menciptakan suasana nyaman bagi peserta.

Meskipun baru berjalan beberapa hari, para peserta penyandang disabilitas dilaporkan telah mahir mengoperasikan mesin espresso dan mengelola arus kas digital dengan standar profesional.

Selain kelompok disabilitas, program belajar sepanjang hayat juga menyasar para lansia. Menaker menekankan bahwa usia tidak boleh menjadi penghalang bagi seseorang untuk tetap produktif dan mendapatkan informasi pasar kerja.

Melalui pelatihan tata boga, para lansia didorong untuk mandiri secara ekonomi dan berkontribusi dalam sektor industri kreatif.

Keunggulan dari program di BPVP Padang ini adalah adanya jaminan penempatan kerja. Seluruh lulusan pelatihan pengelolaan kafe direncanakan akan langsung diserap oleh salah satu kafe di Kota Padang.

Langkah konkret ini diharapkan menjadi model percontohan bagi industri makanan dan minuman di Sumatera Barat untuk mulai membuka ruang kerja yang setara dan adil bagi kelompok marginal.