Kisah Mencekam Ahmad Sahroni Saat Rumahnya Dijarah dan Akhirnya Dibongkar

JurnalPatroliNews – Jakarta – Rumah milik anggota DPR RI nonaktif Ahmad Sahroni kembali menjadi sorotan publik setelah bangunan tersebut akhirnya dibongkar hingga rata dengan tanah.

Kediaman yang sebelumnya rusak berat akibat aksi penjarahan pada akhir Agustus 2025 itu kini benar-benar tak menyisakan satu bangunan pun. Dua ekskavator tampak bekerja mengeruk puing bangunan, sementara tiga dump truck hilir mudik mengangkut material sisa.

Publik mulai memperbincangkan kondisi terbaru rumah tersebut setelah sebuah video yang menampilkan dua traktor menghantam bangunan itu beredar luas di media sosial.

Sorotan semakin besar ketika sebuah wawancara di kanal YouTube Total Politik menegaskan bahwa penghancuran ini memang merupakan rencana pribadi Sahroni.

Kepada pewawancara, Sahroni mengaku memang berniat merobohkan rumah yang menurutnya sudah tidak layak dipertahankan.

Ia juga berencana membangun kembali kediaman barunya serta menata ulang koleksi kendaraan pribadinya. Ia menegaskan akan tetap tinggal di kawasan Tanjung Priok, tempat yang telah menjadi pusat kehidupannya sejak lama.

Kisah Mencekam Saat Rumah Dijarah
Nama Ahmad Sahroni kembali mencuat ketika ia menghadiri doa bersama di depan rumahnya pada 2 November 2025. Dalam kesempatan tersebut, ia mengisahkan detik-detik mencekam saat rumahnya dijarah. Kala itu, ia terpaksa naik ke plafon untuk bersembunyi.

Namun, plafon itu roboh dan membuatnya harus melarikan diri ke kamar mandi, tempat ia duduk hampir satu jam sambil pasrah jika hari itu adalah ajalnya.

Beruntung, ia berhasil keluar melalui bagian belakang rumah sekitar pukul 22.15 WIB dan mendapatkan pertolongan dari tetangganya, Haji Dhani dan istrinya.

Akar Masalah karena Pernyataan Kontroversial
Penjarahan rumah Sahroni dipicu oleh pernyataannya yang kontroversial di Medan pada 22 Agustus 2025. Saat itu, ia merespons isu pembubaran DPR dengan menyebut para pendukungnya sebagai orang bermental “tertlol sedunia”.

Ucapan itu langsung menyulut kemarahan publik. Tagar #BubarkanDPR menggema di media sosial, dan akun resmi miliknya dibanjiri komentar warganet.

Ketegangan semakin meningkat setelah seorang pengemudi ojek daring tewas terlindas kendaraan taktis polisi saat demonstrasi berlangsung di Jakarta.

Situasi itu memicu aksi solidaritas besar-besaran, menjadikan sosok Sahroni—yang kala itu menjabat Wakil Ketua Komisi III DPR RI—sebagai simbol kemarahan massa. Meski pada akhirnya ia dicopot dari jabatannya dan dipindahkan ke Komisi I, amarah publik tetap tak terbendung.

Kronologi Kerusuhan Agustus 2025
Aksi protes di depan rumah Sahroni dimulai pada 29 Agustus 2025. Awalnya, warga sekitar hanya berniat menyuarakan kekecewaan mereka secara damai.

Namun, sehari kemudian, sekitar pukul 15.00 WIB, situasi berubah drastis saat kelompok remaja dari Bahari, Cilincing, dan Kemayoran datang dan memicu tindakan agresif.

Setelah melempar batu ke arah rumah, massa menjebol gerbang besi hingga ambruk. Video viral menunjukkan mereka masuk ke garasi dan merusak satu mobil mewah.

Tak lama kemudian, pintu rumah berhasil didobrak dan interior rumah dijarah ratusan orang.

Menjelang magrib, situasi mencapai puncaknya ketika sebuah Porsche klasik berwarna merah didorong keluar, lalu dihancurkan secara brutal oleh massa. Kerusuhan baru mereda setelah bangunan rumah hancur total dan seluruh isi berharga dijarah habis.

Penjarahan Sistematis
Kerusakan di rumah tersebut benar-benar masif. Bukan hanya bangunan, tetapi hampir seluruh isi rumah raib, termasuk furnitur, alat elektronik, koleksi mewah seperti patung Iron Man besar, hingga dokumen pribadi seperti ijazah, sertifikat tanah, dan kartu keluarga.

Brankas besi dicongkel, sementara uang tunai berupa dolar Singapura dan uang pecahan 100 dolar AS ditemukan massa dan dibagikan di lokasi.

Bagian dalam rumah pun porak-poranda. Kaca pecah berserakan, furnitur terbalik, dan kolam renang indoor dipenuhi puing. Hampir tidak ada bagian rumah yang tersisa.

Melihat kondisi tersebut, Sahroni memutuskan untuk merobohkan bangunan itu sepenuhnya. Proses perataan dilakukan sebagai langkah awal membangun rumah baru yang lebih kuat.

Ia menegaskan tetap memilih tinggal di Tanjung Priok, tempat yang sudah melekat dalam perjalanan hidupnya.