JurnalPatroliNews – Jakarta -Keputusan Kamboja untuk mundur dari SEA Games 2025 memicu perhatian luas di kawasan Asia Tenggara. Langkah mendadak itu terjadi hanya sehari setelah upacara pembukaan, membuat banyak pihak bertanya-tanya mengenai alasan sebenarnya di balik penarikan seluruh delegasi.
Pada Selasa malam (9/12/2025), sebanyak 137 anggota kontingen Kamboja yang terdiri dari atlet dan ofisial hadir dalam upacara pembukaan SEA Games 2025 di Stadion Rajamangala.
Kehadiran penuh tersebut semula menunjukkan bahwa Kamboja masih berniat mengikuti seluruh rangkaian pertandingan, meski hubungan mereka dengan Thailand tengah memanas.
Kabar penarikan delegasi pertama kali diberitakan oleh Khaosod, setelah menerima konfirmasi dari Ketua Panitia SEA Games 2025, Chaipak Siriwat. Ia menyebut keputusan terjadi setelah upacara pembukaan, sehingga bersifat sangat mendadak.
Keesokan harinya, Rabu (10/12/2025), Kamboja secara resmi menarik seluruh delegasinya dan menyatakan mundur total dari ajang tersebut.
Sebelumnya, pada 26 November 2025, Kamboja sudah menarik atlet dari delapan cabang olahraga, yakni sepak bola, sepak takraw, petanque, gulat, judo, karate, pencak silat, dan wushu. Namun keputusan mundur secara keseluruhan baru diumumkan setelah seremoni pembukaan.
Alasan yang diyakini menjadi pemicu mundurnya Kamboja adalah eskalasi konflik militer antara Kamboja dan Thailand. Ketegangan kedua negara meningkat sejak Juli 2025 akibat sengketa wilayah di sekitar kuil kuno Preah Vihear dan Ta Muen Thom.
Pada 24 Juli 2025, militer Kamboja menembakkan rudal ke area perbatasan Thailand, yang dibalas dengan pengerahan jet tempur F-16. Bentrokan pecah di enam titik perbatasan sebelum keduanya menandatangani nota perdamaian pada 26 Oktober 2025.
Namun situasi kembali memburuk pada pertengahan November, mendorong Kamboja menarik kontingen sepak bola putra dan putri dari SEA Games pada 26 November.
Meski demikian, sebagian atlet tetap dikirim ke Bangkok awal Desember 2025. Kondisi berubah drastis ketika bentrokan baru kembali terjadi di berbagai titik perbatasan.
Pada Senin (8/12/2025), Thailand melancarkan serangan udara ke wilayah Kamboja setelah kedua negara saling menuduh melanggar gencatan senjata.
Dua prajurit Thailand dilaporkan terluka, sementara Channel News Asia menyebut serangan tersebut menargetkan infrastruktur militer dan jalur logistik Kamboja. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran atas keselamatan atlet.
Puncaknya terjadi pada Rabu (10/12/2025), ketika Komite Olimpiade Nasional Kamboja mengirim surat resmi kepada Komite Olimpiade Thailand.
Surat yang ditandatangani Sekretaris Jenderal Vath Chamroeun itu menegaskan bahwa tekanan dan kekhawatiran keluarga atlet menjadi alasan utama penarikan total.
Penarikan mendadak tersebut mengganggu jadwal pertandingan beberapa cabang olahraga. Panitia harus melakukan penyesuaian ulang setelah sebelumnya sudah menghadapi tantangan akibat penarikan delapan cabang sejak November.
Meski media Thailand menyebut para atlet Kamboja mendapatkan perlakuan hangat selama berada di Bangkok, faktor keamanan tetap menjadi pertimbangan terbesar.
Mundurnya Kamboja dari SEA Games 2025 mencerminkan situasi sensitif yang dipengaruhi ketegangan militer serta permintaan keluarga atlet demi keselamatan.














